Sabtu, 05 Januari 2013

Death School (6)


Mereka menatap tangga menuju ruang bawah tanah.
"Aku saja yang turun duluan," kata Lily akhirnya.
Lily segera menuruni tangga itu dengan hati-hati. Bagaimana pun juga, tangga itu sangat curam. Dan mereka tidak tahu berapa kedalaman ruang bawah tanah itu. Erinna segera menyusul Lily, lalu Evelyn, dan terakhir, Rozanne.
"Kyaa!" jerit Erinna tertahan saat kakinya salah menuruni tangga.
Evelyn segera memegang tangannya, berusaha menahan Erinna agar tidak jatuh. Jantung Erinna berdebar kencang saat ia berusaha menaikan kakinya ke anak tangga.
"Huft.. Terima kasih, Evelyn," ucap Erinna.
"Ya," balas Evelyn singkat.
Erinna segera menuruni tangga dengan hati-hati. Tangga itu sangat panjang. Seperti tidak berujung.
"Huft, aku mulai lelah," keluh Rozanne.
"Aku juga. Apa kita naik lagi saja?" tanya Erinna."Jangan! Aku sudah mulai melihat ujungnya!" cegah Lily, yang sosoknya sudah di telan kegelapan.
"Kau dimana, Lily?" tanya Erinna keras.
"Sudahlah! Turuni tangga ini saja," jawab Lily.
Erinna diam. Ia segera menuruni tangga dengan cepat. Hup! Terdengar suara kaki Lily melangkah. Berarti, Lily sudah sampai bawah. Erinna menyusul dengan cepat. Evelyn dan Rozanne turun tak lama setelah Erinna.

Rozanne segera menutup hidungnya dengan kerah bajunya. "Uft! Bau busuk!" serunya.
Memang benar. Di ruang bawah tanah, tercium bau busuk yang sangat menyengat. Seperti bau mayat yang membusuk.
"Mungkin Mr.Roghball menggunakan ruang bawah tanah sebagai pembuangan mayat-mayat murid," komentar Evelyn.
Ruangan bawah tanah itu sangat gelap. Lily mengernyit. Sepatunya menginjak sesuatu yang lembek. Matanya berusaha melihat apa yang di injaknya.
"Perlu senter?" tawar Erinna sambil menyalakan senter miliknya.
Cahaya menerangi ruangan bawah tanah yang gelap. Benar saja! Banyak sekali mayat-mayat murid yang bunuh diri di taruh di situ. Beberapa masih baru, dan sebagian mulai membusuk. Kebanyakan, mayat-mayat itu sudah tak utuh lagi. Seperti. Tangannya yang putus, atau kepalanya. Mengerikan. Lily menunduk untuk melihat apa yang diinjaknya. Mayat! Sudah hampir busuk, dan sekarang koyak karena Lily menginjak tangannya.
"Apa yang kau injak?" tanya Rozanne.
"Tangan mayat," jawab Lily dengan nada jijik.
Ia segera menarik kakinya dari mayat itu. Tampak ada belatung.
"Ruangan ini mengerikan, bisa kita naik lagi?" tanya Evelyn ketakutan.
Lily menggeleng. Evelyn menghela napas lesu. BRAK! Terdengar bunyi yang sangat keras dari atas.
"Apa itu?"
Erinna segera menyorotkan senternya ke atas. Pintu bawah tanah di tutup! Entah oleh siapa.
"Pintunya di tutup!" seru Erinna.
"Berarti, kita tidak bisa keluar dari sini?!" Evelyn panik.
Erinna mengendikkan bahu. Evelyn semakin panik saja.
"Kita jalan saja terus. Siapa tahu ada jalan keluar," usul Rozanne.
"Kupikir juga begitu. Ayo," ajak Lily.
Erinna dan Evelyn terpaksa mengikuti Rozanne dan Lily. Menyusuri ruang bawah tanah yang berbau busuk itu. Tes... Darah menetes dari atas, jatuh ke baju Rozanne.
"Heh? Darah?" kata Rozanne heran.
Ia segera mendongak ke atas. Ternyata, ada mayat yang di paku di atas. Wajahnya sudah tak utuh lagi. Sudah koyak. Dan tubuhnya, jangan tanya lagi. Sudah betul-betul hancur.
Rozanne menutup mulutnya, berusaha untuk tidak berteriak sekalipun ia takut sekali. Lily melirik.
"Ada apa?"
"I..Itu," jawab Rozanne sambil menunjuk ke atas.
Lily mendongak. Ia sama terkejutnya dengan Rozanne. Namun, setidaknya ia mampu bersikap 'tenang'. Tenang dalam artian ia biasa saja melihat mayat itu.
"Sofie Alstrugh," ucap Erinna sambil memperhatikan mayat itu.
"Anak kelas 8," sambung Evelyn.
Erinna dan Evelyn kali ini cukup berani untuk melihat mayat mengerikan itu. Tidak seperti tadi.
"Maksudmu, dia Sofie Alstrugh?" ulang Rozanne.
Erinna mengangguk. "Ya. Dia bunuh diri sekitar sebulan yang lalu,"
"Dengan cara tombak di tusukkan tepat di kepalanya," sambung Evelyn.
"Kalian seperti saudara kembar saja. Saling meneruskan dan melengkapi kata-kata," Lily geleng-geleng kepala.
Erinna dan Evelyn cuma tersenyum kecil.
"Apa menurutmu mereka bisa bangkit lagi?" ucap Rozanne tanpa sadar."Maksudmu?" Erinna tidak mengerti.
"Yaa... Maksudku, seperti zombie," ujar Rozanne.
"Kuharap tidak," Lily harap-harap cemas. "Dari beberapa buku yang ku baca di perpustakaan, ada beberapa mayat murid yang BISA bangkit seperti zombie. Itu adalah mayat murid yang di beri suatu cairan oleh Mr.Roghball. Kuharap itu cuma dongeng,"
Wajah Rozanne memucat. Ketahuan kalau ia takut berat pada zombie.
"Sudahlah. Siapa tahu itu cuma buku yang di buat untuk menakut-nakuti murid-murid," hibur Lily pelan.
"Kuharap itu benar, Lily," kata Evelyn dengan wajah memucat. "Karena ada seseorang yang turun dari tangga,"
Lily dan Rozanne segera melihat ke tangga. Benar kata Evelyn. Ada seseorang yang menuruni tangga. Rozanne segera menoleh ke arah Erinna yang memucat. Lily mempersiapkan pedangnya.
Dan...
Sebuah tangan menepuk bahu Rozanne. Tangan itu... Basah.
Rozanne menoleh dengan wajah pucat.
Dan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar