Tampilkan postingan dengan label Majalah Bobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalah Bobo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juli 2015

Penjelajahan Jelajah Museum

Menjelajahi museum, kata siapa enggak asyik? Museum-museum di kawasan Kota Tua, Jakarta Kota, asyik untuk dijelajahi, lho! Kita bisa berangkat pagi-pagi naik bus Trans Jakarta turun di Halte Stasiun Kota atau naik kereta api turun di Stasiun Kota. Lalu, berjalan kaki dari museum ke museum. Yuk, kita bikin petualangan sehari menjelajahi museum! Siap? Go!


Pos 1 : Museum Bank Mandiri
Zaman dulu belum ada handphone. Lalu, bentuk teleponnya seperti apa, ya? Kita bisa melihatnya di sini. Selain telepon tua, kita bisa juga melihat peralatan hitung dan mesin ketik tua. Ada juga mesin ATM dari masa ke masa. Sama enggak, ya, dengan mesin ATM yang sekarang?

Pos 2 : Museum Bank Indonesia
Museum enggak selalu kuno, kok. Cobalah mampir ke Museum Bank Indonesia ini! Kita enggak hanya bisa belajar sejarah. untuk melihat perkembangan bank dari zaman dulu sampai sekarang, kita bisa memakai perlengkapan multimedia. Kita juga bisa nonton film. Ada kios buku dan cenderamata juga. Kalau mau baca-baca, ruang perpustakaan juga ada!

Pos 3 : Museum Sejarah Jakarta
Museum Sejarah Jakarta terkenal juga sebagai Museum Fatahillah atau Museum Batavia. Museum ini dulunya balai kota di zaman pemerintahan Belanda. Kalau mau melihat perkembangan Jakarta dari masa ke masa, di sini tempatnya. Zaman belum ada video game, meja bisa jadi tempat permainan. Permainan apa, ya? Jawabannya ada di sini. Begitu masuk ke ruang zaman Jakarta Masa Kini, kita akan disambut sepasang ondel-ondel. Masih ingat kendaraan bernama becak? Ada juga di sini! Mau tahu, tempat yang paling bikin penasaran? Penjara bawah tanah!

Pos 4 : Museum Wayang
Pingin bertemu dengan boneka Unyil dan teman-temannya? Mereka ada di Museum Wayang. Selain koleksi wayang dan gamelan Indonesia, ada juga boneka-boneka dari luar negeri. Kita bisa melihat Wayang Polandia, Wayang Boneka Punch dan Judy dari Inggris, serta wayang-wayang cantik dari Rusia. Di waktu-waktu tertentu, sering diadakan pertunjukan wayang di sini.

Pos 5 : Museum Seni Rupa dan Keramik
Nah, buat teman-teman yang hobi menggambar, museum ini bisa jadi tempat asyik untuk dikunjungi. Ada lukisan-lukisan keren karya para pelukis terkenal di Indonesia, seperti Raden Saleh, Affandi, dan Basuki Abdullah. Koleksi-koleksi keramik dari berbagai negara juga banyak. Paling banyak sih, koleksi keramik Cina zaman Dinasti Ming.

Pos Bonus : Ojek Sepeda
Capek berjalan-jalan di museum? Gimana kalau berkeliling sambil duduk di boncengan sepeda yang empuk? Di kawasan Kota Tua ini, banyak ojek sepeda yang bisa kita sewa. Harganya tergantung waktu atau jarak. Dengan membayar 20.000 rupiah, kita bisa menikmati pemandangan di Kota Tua. Petualangan pun semakin asyik! (Vero)

***
sumber : Majalah Bobo edisi 11 terbit 19 Juni 2008

Seratus Mata Merak

Haah... Merak dijuluki sebagai hewan yang memiliki seratus mata?!


Mata Indah
Ups! Mata yang dimaksud itu bukan mata sungguhan. Tetapi, corak pada bulu ekor merak. Corak itu berbentuk seperti mata. Diperkirakan jumlahnya sekitar 150 sampai 200 mata. Corak itu berwarna-warni sangat indah dan berkilauan. Ada warna biru, hijau, kuning keemasan dan lainnya. Benar-benar mata yang membuat terpana!

Menjuntai Panjang
Saat sedang menjuntai, bulu ekor itu mirip gaun pengantin yang panjang menyapu lantai. Panjang bulu ekor merak melebihi panjang tubuh merak. Panjang tubuh merak sekitar 90 cm sampai 130 cm. Sementara panjang bulu ekornya sekitar 150 cm hingga 180 cm. Bulu ekornya yang menjuntai itu menyebabkan merak disebut sebagai salah satu burung terbang terbesar.

Penarik Perhatian
Bulu ekor bermata indah itu biasanya hanya dimiliki merak jantan. Merak jantan menggunakannya untuk menarik perhatian merak betina. Cuit,cuit, prikitiw....! Merak-merak jantan menegakkan dan mengembangkan bulu ekornya seperti kipas. Lalu, merak betina menilai dan memilih merak jantan terbaik. Merak betina memilihnya berdasarkan ukuran, warna, dan kualitas bulu ekor si jantan.

Kristal Fotonik
Warna-warni bulu ekor merak tidak berasal dari zat pewarna atau pigmen. Warna-warninya berasal dari kristal fotonik. Apa, ya, itu? Begini, dalam sehelai bulu terdapat tulang bulu dan serat bulu. Serat bulu disebut barb. Lalu, pada barb terdapat rambut-rambut mikro yang disebut barbula. Nah, pada barbula tersusun batang-batang tipis yang disebut kristal fotonik.

Susunan kristal fotonik itu sangat istimewa. Cahaya yang terpantul dari susunan kristal itu menjadi berwarna-warni indah. Akhirnya... bulu ekor merak pun tampak berwarna-warni cemerlang!

Fakta Merak
  • Ada tiga spesies merak di dunia
  • Spesies merak di Indonesia adalah merak hijau atau Pavo muticus
  • Suka makan kelopak bunga dan pucuk daun
  • Doyan juga makan hewan-hewan kecil, misalnya laba-laba
  • Dapat bertahan hidup hingga sekitar 20 tahun


***
sumber : Majalah Bobo edisi 34 terbit 2 Desember 2010
foto : biology.umm.ac.id

Chocolate Hills mirip Chocolate Chips

Bayangkan sebuah es krim yang buesaaar sekali dengan topping chocolate chips! Yummy...! Nah, kalau kita pergi ke pulau Bohol di Filipina kita akan melihatnya. Hmm... sllrrff!


Chocolate Hills

Ada daratan seluas 50 kilometer persegi di Pulau Bohol, Filipina. Luasnya kira-kira sama dengan 6.000 kali luas lapangan bola. Ada sekitar 1.286 - 1.776 bukit berwarna cokelat tengkurap di atasnya. Tingginya rata-rata antara 30 hingga 50 meter. Meskipun, ada juga yang tingginya sampai 120 meter. Daerah inilah yang dimaksud dengan "es krim raksasa bertabur chocolate chips". Ia merupakan daerah wisata yang dikenal dengan nama Chocolate Hills atau Bukit Cokelat.

Bukit itu merupakan tanah berkapur yang tertutup oleh rumput hijau. Di musim panas, rumput itu meranggas, berubah warnanya menjadi cokelat. Itulah sebabnya bukit ini diberi nama Bukit Cokelat.

Menurut ahli geologi, bukit-bukit di Chocolate Hills terbentuk akibat letusan gunung berapi yang memuntahkan batu-batu raksasa. Batu-batu itu kemudian tertutup oleh kapur dan ditumbuhi rumput. Sementara gunung apinya sendiri akhirnya mati. Perkiraan kedua, bukit-bukit terbentuk dari sisa-sisa dasar laut yang terangkat oleh cuaca hujan dan angin.

Legenda Raksasa

Lain cerita para ahli, lain cerita legenda.

Menurut sebuah legenda, bukit-bukit itu adalah bekas pertempuran dua raksasa yang bermusuhan dan saling melempar batu, pasir, dan kerikil.

Legenda lain mengatakan bukit itu merupakan air mata raksasa yang mengering. Raksasa itu menangisi kematian wanita yang dicintainya.

Legenda lain lagi bercerita tentang raksasa yang membuang semua makanannya. Raksasa itu ingin menguruskan badannya agar wanita bernama Eng tertarik kepadanya. Sisa makanan itu mengering menjadi bukit-bukit. Iih, ada-ada saja ya cerita legenda. (aan)



***
Sumber : Majalah Bobo edisi 34 terbit 2 Desember 2010.
foto-foto : uniqspot.com