Tampilkan postingan dengan label Death School. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Death School. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Januari 2013

Death School (7)

 Dan..
Yang dilihat Rozanne adalah sesosok wajah hancur yang mengerikan.
"KYAA!!" jerit Rozanne sambil menutup matanya.
Lily segera menarik Rozanne untuk belari. Terjadi sesuatu yang ANEH. Mayat-mayat di situ mulai berjalan, seperti zombie! Dan mereka sangat menyeramkan, karena wajahnya dan tubuhnya yang sudah tak utuh. Rozanne dan Lily berlari secepat mungkin, disusul Erinna dan Evelyn yang masih berusaha menyerang mayat-mayat itu.
"Akh! Mereka selalu terbentuk lagi! Tidak bisa di serang!" keluh Evelyn.
"Sudahlah! Lebih baik kita lari saja!" seru Lily.
Erinna segera berlari menyusul Rozanne dan Lily. "O-Orang yang tadi turun itu ter-ternyata Valencia!" lapornya sambil mengatur napas.
"Valencia?" ulang Rozanne heran.
Pandangannya segera beralih ke tangga bawah tanah.
"Itu Valencia! Valencia Dorrenstone!" seru Rozanne kaget melihat sosok yang ternyata Valencia.
Wajahnya tidak begitu jelas karena remang. Walau begitu, mereka bisa melihat tatapan Valencia yang sendu. Ia memanggil-manggil nama Rozanne.
"Rozanne... Rozanne..." panggilnya lirih.
Rozanne akan melangkah menuju Valencia, saat Lily menariknya, sebelum tangan salah satu mayat menggapainya."Awas! Jangan ceroboh!" seru Lily.
"Aku harus menemui Valencia! Siapa tahu, ia mau memberitahu sesuatu," kata Rozanne.
Lily menggeleng. "Tidak. Siapa tahu itu adalah jebakan,"
Lily mengayunkan pedangnya, menuju mayat-mayat yang mulai menggapai Rozanne.
"Kita harus pergi dari sini! Hei, Erinna! Bawa Rozanne pergi, ia harus selamat," perintah Lily.
"Bagaimana dengan kau, Lily?" tanya Erinna."Aku akan disini, melawan mayat-mayat zombie ini," jawab Lily, sambil sesekali menusukkan pedangnya ke mayat-mayat itu.
"Jangan, Lily," kata Evelyn sambil memanah mayat-mayat itu.
Ia menatap Lily sebentar, lalu kembali memanah.
"Aku tahu siapa yang akan mati di sini, itu AKU. Mayat-mayat ini tak akan berhenti sebelum ada yang mengorbankan diri," jelasnya.
"Jangan, Evy! Aku enggak punya teman nanti!" larang Erinna aneh.
Evelyn menatap Erinna lesu. "Pergilah,"
"Apa?! Tapi?!"
Lily menepuk Erinna. "Kupikir juga kita harus pergi,"
"Cepat!!" seru Evelyn. "Aku tak bisa menahannya lebih lama!"
Lily mengangguk, Rozanne terdiam."Selamat tinggal, Evelyn. Terima kasih untuk segalanya," kata Lily.
Rozanne dan Erinna tak bisa berkata apa-apa lagi. Evelyn mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
"Ayo," ajak Lily pelan.
Rozanne, Lily, dan Erinna segera berlari pergi. Melanjutkan perjalanan. Dari jauh, mereka bisa melihat mayat-mayat zombie itu mulai menggapai Evelyn. Evelyn hanya memberi sedikit pertahanan. Dan.... Mayat-mayat zombie itu mulai mencakar Evelyn, memakannya.
Rozanne, Lily, dan Erinna cuma bisa berlari, sambil mendengarkan jeritan pilu dari Evelyn. Mereka tak bisa berhenti. Mayat-mayat zombie itu akan ganti memakan mereka.

Death School (6)


Mereka menatap tangga menuju ruang bawah tanah.
"Aku saja yang turun duluan," kata Lily akhirnya.
Lily segera menuruni tangga itu dengan hati-hati. Bagaimana pun juga, tangga itu sangat curam. Dan mereka tidak tahu berapa kedalaman ruang bawah tanah itu. Erinna segera menyusul Lily, lalu Evelyn, dan terakhir, Rozanne.
"Kyaa!" jerit Erinna tertahan saat kakinya salah menuruni tangga.
Evelyn segera memegang tangannya, berusaha menahan Erinna agar tidak jatuh. Jantung Erinna berdebar kencang saat ia berusaha menaikan kakinya ke anak tangga.
"Huft.. Terima kasih, Evelyn," ucap Erinna.
"Ya," balas Evelyn singkat.
Erinna segera menuruni tangga dengan hati-hati. Tangga itu sangat panjang. Seperti tidak berujung.
"Huft, aku mulai lelah," keluh Rozanne.
"Aku juga. Apa kita naik lagi saja?" tanya Erinna."Jangan! Aku sudah mulai melihat ujungnya!" cegah Lily, yang sosoknya sudah di telan kegelapan.
"Kau dimana, Lily?" tanya Erinna keras.
"Sudahlah! Turuni tangga ini saja," jawab Lily.
Erinna diam. Ia segera menuruni tangga dengan cepat. Hup! Terdengar suara kaki Lily melangkah. Berarti, Lily sudah sampai bawah. Erinna menyusul dengan cepat. Evelyn dan Rozanne turun tak lama setelah Erinna.

Rozanne segera menutup hidungnya dengan kerah bajunya. "Uft! Bau busuk!" serunya.
Memang benar. Di ruang bawah tanah, tercium bau busuk yang sangat menyengat. Seperti bau mayat yang membusuk.
"Mungkin Mr.Roghball menggunakan ruang bawah tanah sebagai pembuangan mayat-mayat murid," komentar Evelyn.
Ruangan bawah tanah itu sangat gelap. Lily mengernyit. Sepatunya menginjak sesuatu yang lembek. Matanya berusaha melihat apa yang di injaknya.
"Perlu senter?" tawar Erinna sambil menyalakan senter miliknya.
Cahaya menerangi ruangan bawah tanah yang gelap. Benar saja! Banyak sekali mayat-mayat murid yang bunuh diri di taruh di situ. Beberapa masih baru, dan sebagian mulai membusuk. Kebanyakan, mayat-mayat itu sudah tak utuh lagi. Seperti. Tangannya yang putus, atau kepalanya. Mengerikan. Lily menunduk untuk melihat apa yang diinjaknya. Mayat! Sudah hampir busuk, dan sekarang koyak karena Lily menginjak tangannya.
"Apa yang kau injak?" tanya Rozanne.
"Tangan mayat," jawab Lily dengan nada jijik.
Ia segera menarik kakinya dari mayat itu. Tampak ada belatung.
"Ruangan ini mengerikan, bisa kita naik lagi?" tanya Evelyn ketakutan.
Lily menggeleng. Evelyn menghela napas lesu. BRAK! Terdengar bunyi yang sangat keras dari atas.
"Apa itu?"
Erinna segera menyorotkan senternya ke atas. Pintu bawah tanah di tutup! Entah oleh siapa.
"Pintunya di tutup!" seru Erinna.
"Berarti, kita tidak bisa keluar dari sini?!" Evelyn panik.
Erinna mengendikkan bahu. Evelyn semakin panik saja.
"Kita jalan saja terus. Siapa tahu ada jalan keluar," usul Rozanne.
"Kupikir juga begitu. Ayo," ajak Lily.
Erinna dan Evelyn terpaksa mengikuti Rozanne dan Lily. Menyusuri ruang bawah tanah yang berbau busuk itu. Tes... Darah menetes dari atas, jatuh ke baju Rozanne.
"Heh? Darah?" kata Rozanne heran.
Ia segera mendongak ke atas. Ternyata, ada mayat yang di paku di atas. Wajahnya sudah tak utuh lagi. Sudah koyak. Dan tubuhnya, jangan tanya lagi. Sudah betul-betul hancur.
Rozanne menutup mulutnya, berusaha untuk tidak berteriak sekalipun ia takut sekali. Lily melirik.
"Ada apa?"
"I..Itu," jawab Rozanne sambil menunjuk ke atas.
Lily mendongak. Ia sama terkejutnya dengan Rozanne. Namun, setidaknya ia mampu bersikap 'tenang'. Tenang dalam artian ia biasa saja melihat mayat itu.
"Sofie Alstrugh," ucap Erinna sambil memperhatikan mayat itu.
"Anak kelas 8," sambung Evelyn.
Erinna dan Evelyn kali ini cukup berani untuk melihat mayat mengerikan itu. Tidak seperti tadi.
"Maksudmu, dia Sofie Alstrugh?" ulang Rozanne.
Erinna mengangguk. "Ya. Dia bunuh diri sekitar sebulan yang lalu,"
"Dengan cara tombak di tusukkan tepat di kepalanya," sambung Evelyn.
"Kalian seperti saudara kembar saja. Saling meneruskan dan melengkapi kata-kata," Lily geleng-geleng kepala.
Erinna dan Evelyn cuma tersenyum kecil.
"Apa menurutmu mereka bisa bangkit lagi?" ucap Rozanne tanpa sadar."Maksudmu?" Erinna tidak mengerti.
"Yaa... Maksudku, seperti zombie," ujar Rozanne.
"Kuharap tidak," Lily harap-harap cemas. "Dari beberapa buku yang ku baca di perpustakaan, ada beberapa mayat murid yang BISA bangkit seperti zombie. Itu adalah mayat murid yang di beri suatu cairan oleh Mr.Roghball. Kuharap itu cuma dongeng,"
Wajah Rozanne memucat. Ketahuan kalau ia takut berat pada zombie.
"Sudahlah. Siapa tahu itu cuma buku yang di buat untuk menakut-nakuti murid-murid," hibur Lily pelan.
"Kuharap itu benar, Lily," kata Evelyn dengan wajah memucat. "Karena ada seseorang yang turun dari tangga,"
Lily dan Rozanne segera melihat ke tangga. Benar kata Evelyn. Ada seseorang yang menuruni tangga. Rozanne segera menoleh ke arah Erinna yang memucat. Lily mempersiapkan pedangnya.
Dan...
Sebuah tangan menepuk bahu Rozanne. Tangan itu... Basah.
Rozanne menoleh dengan wajah pucat.
Dan...

Death School (5)


Itu karena, suara berdebum yang keras. Ternyata, itu Danny. Danny berhasil menyingkirkan rak alumninya. Ia sekarang berjalan menuju Rozanne dan Lily, dengan membawa pedangnya. Ia mulai mengayun-ayunkan pedangnya ke arah Rozanne. Rozanne yang memang lemah, tidak bisa melawan. Namun, tanpa disangka, Lily cepat menusukan pedangnya ke punggung Danny.

Darah muncrat kemana-mana. Danny berteriak keras. Rozanne dan Evelyn menutup mata mereka. Dan Erinna bengong melihatnya. Lily mencabut pedangnya. Danny berbalik. Ia menatap Lily dengan tatapan sendu, kemudian ambruk.

"Danny?" panggil Lily pelan.
Danny tak menjawab. Ia tak bergerak.
"K-Kau membunuhnya!" seru Rozanne.
"Dia akan membunuhmu kalau aku tak membunuhnya duluan, Rozanne," kata Lily.
Rozanne tak menjawab. Erinna mendekat.
"Hei, kau pasti shock melihat Lily membunuh Danny," kata Erinna. "Apa ini pembunuhan pertama kali yang kau lihat?"
"Pembunuhan kedua," ralat Lily. "Dia pernah melihat upacara bunuh diri Robby Cariesto,"
"Robby pasti gila," ujar Evelyn. "Memberikan organ tubuhnya untuk di awetkan. Dia pasti sangat kesakitan begitu perutnya dirobek.."
"Hei, dia sudah mati!" potong Erinna.
"Jika dia masih hidup," Evelyn meralat perkataannya.
"Upacara bunuh diri Robby sebenarnya masih 'tidak begitu buruk'," sela Lily. "Kalian ingat Billy Cloddy? Dia bunuh diri dengan cara disiksa berulang kali. Di tenggelamkan, menjatuhkan dirinya dari lantai atas, gantung diri..."
"Billy memang sulit mati. Aku sempat tidak percaya dia baru mati setelah mengalami berbagai siksaan yang murid lain akan mati dengan sekali siksaan," komentar Erinna.

Rozanne tidak menanggapi teman-temannya. Ia menatap mayat Danny, yang 'pernah' menjadi temannya. Dalam jangka waktu belum seminggu, dia sudah nyaris membunuh Rozanne dan mati.
Erinna menepuk bahu Rozanne. "Kita lanjutkan perjalanan,"
"Tapi, kita belum mendapat catatan dari Valencia. Kita tidak tahu harus kemana. Aku tidak mau," tolak Rozanne.
"Lalu, kau mau berkemah disini?" tanya Erinna. "Aku sih, mau-mau saja," lanjutnya.
Lily geleng-geleng kepala. "Kalian ini rabun atau apa? Jelas-jelas, ada kertas di punggung Danny," kata Lily sembari mengambil kertas di punggung Danny yang telah mati.
Kertas itu bernoda darah Danny.
"Apa isinya?" tanya Evelyn tak sabar.
"Sebentar," kata Lily.
Ia mulai membacakan isi dari kertas itu. Isinya adalah :

Kalian kehilangan satu orang teman, ya? Ups, maksudku, dua orang teman. Ya, kurasa di perjalanan selanjutnya kalian akan kehilangan seorang teman lagi. Oke, biar ku beritahu. Selanjutnya, kalian harus mencari ruang bawah tanah. Cukup muda. Letaknya ada di bawah kepala salah seorang mayat teman kalian. Selamat melanjutkan perjalanan dan kehilangan teman!

Valencia

"Kehilangan teman!? Maksudnya, selanjutnya ada yang mati lagi?!" cetus Erinna heran.
"Aku harap itu aku," kata Rozanne lesu.
"Kenapa kau menjadi sangat lesu setelah Danny mati, Rozanne?" tanya Lily heran melihat perubahan sikap Rozanne.
Rozanne menatap Lily. "Tentu saja. Kau bunuh temanmu sendiri,"
"Aku melakukannya demi menyelamatkan nyawamu, Rozanne! Jika aku tak membunuhnya, kau yang akan mati!! Kau mau?" Lily menatap Rozanne tajam.
Rozanne hanya mengendikkan bahu.
"Hei, sudahlah kalian," lerai Evelyn. "Jangan bertengkar begini,"
"Ya! Dengarkan Evy," tambah Erinna yang disambut tatapan marah dari Evelyn karena dipanggil 'Evy'.
Lily menghela napas. "Ya, baiklah. Pintu ruang bawah tanah? Di bawah kepala salah seorang mayat teman kita? Danny atau Mischa?"
"Kupikir Mischa. Tak ada pintu di bawah kepala Danny," tebak Erinna.
"Sudahlah, kalian periksa Mischa saja," putus Lily akhirnya.
"Kalian? Kami? Maksudnya aku dan Evelyn?" tanya Erinna.
"Kau sudah tahu itu. Ayo!" Evelyn menarik Erinna ke mayat Mischa.
Tidak begitu jauh, sih. Masih terlihat dari tempat Rozanne dan Lily berdiri. Lily menghela napas dan menatap Rozanne.
"Ya, aku tahu kau marah dan masih... Agak terkejut," kata Lily.
Rozanne diam. Ia menggeser kepala Danny untuk melihat apakah ada pintu atau tidak. Tidak ada.
"Hei! Disini ada pintu!" seru Erinna.
Rozanne dan Lily menoleh. Mereka lalu berjalan ke mayat Mischa.
Erinna menunjukan pintu rahasia bawah tanah. Evelyn menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya, aku rasa tidak melihat pintu dibawah kepala Mischa tadi," ujarnya.
"Mungkin saja terjadi," tukas Erinna. "Walau kuakui, ini aneh,"
Erinna menarik gagang pintu itu.
"Hei, bantu aku!" pinta Erinna.
Rozanne, Lily, dan Evelyn segera membantu Erinna membuka pintu. Pintu itu sangat keras.
"Duh, susah banget," keluh Evelyn.
Dan...
Bruk!
Akhirnya pintu itu terbuka. Keempat anak perempuan itu melihat ke dalamnya. Gelap....
Ada satu pertanyaan terbesit di benak mereka bereempat.
Siapakah yang akan mati di ruang bawah tanah ini, seperti kata Valencia?

Death School (4)

Diam-diam, Danny menghunuskan pedangnya ke arah Rozanne... Namun, Lily dengan cepat menangkis pedang Danny dengan pedangnya. Rozanne kaget dan berbalik. Begitu pula dengan Erinna dan Evelyn.
"Kau mau menjebak kami, heh? Pura-pura baik, lalu nyatanya akan membunuh kami?" kata Lily marah.
Danny tak menjawab. Ia menatap Lily, lalu mengayun-ayunkan pedangnya. Lily tetap menahannya. Ia tau, jika memberikan sedikit saja celah untuk Danny, maka Danny akan langsung MEMBUNUHNYA!
BRAK!
Rozanne dan Erinna menjatuhkan rak-rak berisi catatan alumni ke arah Danny.
"Aa!" Danny berteriak.
Lily mundur. Semua diam. Namun, rak itu bergerak-gerak. Menandakan, Danny bisa dengan mudah menyingkirkan raknya.
"Ayo, pergi dari sini!" ajak Lily.
Rozanne menggeleng. "Danny..."
"Dia bukan Danny yang dulu lagi, Rozanne. Dia sudah berbeda sekarang. Dia bisa mencelakai kita, bahkan, membunuh kita,"
"Tapi.." Ucapan Rozanne terputus.
Itu karena, suara berdebum yang keras. Ternyata, itu Danny. Danny berhasil menyingkirkan rak alumninya. Ia sekarang berjalan menuju Rozanne dan Lily, dengan membawa pedangnya.

Tokoh-Tokoh di Death School~

Rozanne Willow

Nama : Rozanne Azura Willow
TTL : London, U.K. 17 April (tahunnya nggak usah, ya)
Warna rambut : Pirang kelabu
Warna mata : Hijau.

Lily Turner


Nama : Lily Melody Turner
TTL : Liverpool, U.K. 2 Desember.
Warna Rambut : Coklat kemerahan.
Warna mata : Coklat.

Erinna McKelly

Nama : Erinna Sarah McKelly
TTL : Roma, Italy. 6 Agustus
Warna Rambut : Pirang keemasan
Warna mata : Biru.


Evelyn Black

Nama : Evelyn Evanna Black
TTL : Bristol, U.K. 26 Februari.
Warna Rambut : Hitam.
Warna mata : Biru.

Danny Brownsteel

Nama : Danny Alfred Brownsteel
TTL : Newport, U.K. 1 Agustus.
Warna rambut : Coklat.
Warna Mata : Coklat.

Valencia Dorrenstone

 Nama : Valencia Stacy Dorrenstone
TTL : Bristol, U.K. 15 September.
Warna Rambut : Hitam.
Warna mata : Merah.

Mischa Challya

Nama : Mishca Vivian Challya
TTL : Bristol, U.K. 7 Januari.
Warna rambut : Merah.
Warna mata : Hijau.

Nicholas Roghball

Nama : Nicholas Nicky Roghball
TTL : Tidak diketahui.
Warna rambut : Kelabu.
Warna mata : Kelabu.