Sabtu, 05 Januari 2013

Death School (5)


Itu karena, suara berdebum yang keras. Ternyata, itu Danny. Danny berhasil menyingkirkan rak alumninya. Ia sekarang berjalan menuju Rozanne dan Lily, dengan membawa pedangnya. Ia mulai mengayun-ayunkan pedangnya ke arah Rozanne. Rozanne yang memang lemah, tidak bisa melawan. Namun, tanpa disangka, Lily cepat menusukan pedangnya ke punggung Danny.

Darah muncrat kemana-mana. Danny berteriak keras. Rozanne dan Evelyn menutup mata mereka. Dan Erinna bengong melihatnya. Lily mencabut pedangnya. Danny berbalik. Ia menatap Lily dengan tatapan sendu, kemudian ambruk.

"Danny?" panggil Lily pelan.
Danny tak menjawab. Ia tak bergerak.
"K-Kau membunuhnya!" seru Rozanne.
"Dia akan membunuhmu kalau aku tak membunuhnya duluan, Rozanne," kata Lily.
Rozanne tak menjawab. Erinna mendekat.
"Hei, kau pasti shock melihat Lily membunuh Danny," kata Erinna. "Apa ini pembunuhan pertama kali yang kau lihat?"
"Pembunuhan kedua," ralat Lily. "Dia pernah melihat upacara bunuh diri Robby Cariesto,"
"Robby pasti gila," ujar Evelyn. "Memberikan organ tubuhnya untuk di awetkan. Dia pasti sangat kesakitan begitu perutnya dirobek.."
"Hei, dia sudah mati!" potong Erinna.
"Jika dia masih hidup," Evelyn meralat perkataannya.
"Upacara bunuh diri Robby sebenarnya masih 'tidak begitu buruk'," sela Lily. "Kalian ingat Billy Cloddy? Dia bunuh diri dengan cara disiksa berulang kali. Di tenggelamkan, menjatuhkan dirinya dari lantai atas, gantung diri..."
"Billy memang sulit mati. Aku sempat tidak percaya dia baru mati setelah mengalami berbagai siksaan yang murid lain akan mati dengan sekali siksaan," komentar Erinna.

Rozanne tidak menanggapi teman-temannya. Ia menatap mayat Danny, yang 'pernah' menjadi temannya. Dalam jangka waktu belum seminggu, dia sudah nyaris membunuh Rozanne dan mati.
Erinna menepuk bahu Rozanne. "Kita lanjutkan perjalanan,"
"Tapi, kita belum mendapat catatan dari Valencia. Kita tidak tahu harus kemana. Aku tidak mau," tolak Rozanne.
"Lalu, kau mau berkemah disini?" tanya Erinna. "Aku sih, mau-mau saja," lanjutnya.
Lily geleng-geleng kepala. "Kalian ini rabun atau apa? Jelas-jelas, ada kertas di punggung Danny," kata Lily sembari mengambil kertas di punggung Danny yang telah mati.
Kertas itu bernoda darah Danny.
"Apa isinya?" tanya Evelyn tak sabar.
"Sebentar," kata Lily.
Ia mulai membacakan isi dari kertas itu. Isinya adalah :

Kalian kehilangan satu orang teman, ya? Ups, maksudku, dua orang teman. Ya, kurasa di perjalanan selanjutnya kalian akan kehilangan seorang teman lagi. Oke, biar ku beritahu. Selanjutnya, kalian harus mencari ruang bawah tanah. Cukup muda. Letaknya ada di bawah kepala salah seorang mayat teman kalian. Selamat melanjutkan perjalanan dan kehilangan teman!

Valencia

"Kehilangan teman!? Maksudnya, selanjutnya ada yang mati lagi?!" cetus Erinna heran.
"Aku harap itu aku," kata Rozanne lesu.
"Kenapa kau menjadi sangat lesu setelah Danny mati, Rozanne?" tanya Lily heran melihat perubahan sikap Rozanne.
Rozanne menatap Lily. "Tentu saja. Kau bunuh temanmu sendiri,"
"Aku melakukannya demi menyelamatkan nyawamu, Rozanne! Jika aku tak membunuhnya, kau yang akan mati!! Kau mau?" Lily menatap Rozanne tajam.
Rozanne hanya mengendikkan bahu.
"Hei, sudahlah kalian," lerai Evelyn. "Jangan bertengkar begini,"
"Ya! Dengarkan Evy," tambah Erinna yang disambut tatapan marah dari Evelyn karena dipanggil 'Evy'.
Lily menghela napas. "Ya, baiklah. Pintu ruang bawah tanah? Di bawah kepala salah seorang mayat teman kita? Danny atau Mischa?"
"Kupikir Mischa. Tak ada pintu di bawah kepala Danny," tebak Erinna.
"Sudahlah, kalian periksa Mischa saja," putus Lily akhirnya.
"Kalian? Kami? Maksudnya aku dan Evelyn?" tanya Erinna.
"Kau sudah tahu itu. Ayo!" Evelyn menarik Erinna ke mayat Mischa.
Tidak begitu jauh, sih. Masih terlihat dari tempat Rozanne dan Lily berdiri. Lily menghela napas dan menatap Rozanne.
"Ya, aku tahu kau marah dan masih... Agak terkejut," kata Lily.
Rozanne diam. Ia menggeser kepala Danny untuk melihat apakah ada pintu atau tidak. Tidak ada.
"Hei! Disini ada pintu!" seru Erinna.
Rozanne dan Lily menoleh. Mereka lalu berjalan ke mayat Mischa.
Erinna menunjukan pintu rahasia bawah tanah. Evelyn menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya, aku rasa tidak melihat pintu dibawah kepala Mischa tadi," ujarnya.
"Mungkin saja terjadi," tukas Erinna. "Walau kuakui, ini aneh,"
Erinna menarik gagang pintu itu.
"Hei, bantu aku!" pinta Erinna.
Rozanne, Lily, dan Evelyn segera membantu Erinna membuka pintu. Pintu itu sangat keras.
"Duh, susah banget," keluh Evelyn.
Dan...
Bruk!
Akhirnya pintu itu terbuka. Keempat anak perempuan itu melihat ke dalamnya. Gelap....
Ada satu pertanyaan terbesit di benak mereka bereempat.
Siapakah yang akan mati di ruang bawah tanah ini, seperti kata Valencia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar