Rozanne Willow
Nama : Rozanne Azura Willow
TTL : London, U.K. 17 April (tahunnya nggak usah, ya)
Warna rambut : Pirang kelabu
Warna mata : Hijau.
Lily Turner
Nama : Lily Melody Turner
TTL : Liverpool, U.K. 2 Desember.
Warna Rambut : Coklat kemerahan.
Warna mata : Coklat.
Erinna McKelly
Nama : Erinna Sarah McKelly
TTL : Roma, Italy. 6 Agustus
Warna Rambut : Pirang keemasan
Warna mata : Biru.
Evelyn Black
Nama : Evelyn Evanna Black
TTL : Bristol, U.K. 26 Februari.
Warna Rambut : Hitam.
Warna mata : Biru.
Danny Brownsteel
Nama : Danny Alfred Brownsteel
TTL : Newport, U.K. 1 Agustus.
Warna rambut : Coklat.
Warna Mata : Coklat.
Valencia Dorrenstone
Nama : Valencia Stacy Dorrenstone
TTL : Bristol, U.K. 15 September.
Warna Rambut : Hitam.
Warna mata : Merah.
Mischa Challya
Nama : Mishca Vivian Challya
TTL : Bristol, U.K. 7 Januari.
Warna rambut : Merah.
Warna mata : Hijau.
Nicholas Roghball
Nama : Nicholas Nicky Roghball
TTL : Tidak diketahui.
Warna rambut : Kelabu.
Warna mata : Kelabu.
Sabtu, 05 Januari 2013
Death School (3)
"KYAA!! TOLONG AKU!!"
Erinna berteriak histeris. Lututnya sobek dan berdarah karena terantuk lantai yang mencuat ke atas. Tangan busuk itu semakin mendekat ke arah Erinna. Erinna menutup matanya. Pasrah akan nasib.
"ARGH!" Valencia palsu berteriak.
Erinna membuka matanya.
"Erinna!" seru Rozanne.
Ternyata, Evelyn memanah jantung Valencia palsu. Valencia palsu mengerang-erang kesakitan. Kemudian, ia jatuh dan diam. Tubuhnya lalu meleleh menjadi darah dan cairan berbau busuk yang menjijikan. Dari cairan-cairan busuk itu, tiba-tiba membentuk menjadi selembar kertas.
"Hei, kertas apa itu?" tanya Lily.
"Entahlah. Ada yang mau mengambil?" tanya Danny.
Semua anak perempuan disitu menggeleng. Itu menjijikan. Akhirnya, Danny, secara terpaksa, mengambil kertas itu. Mimik wajahnya terlihat sangat jijik begitu menyentuh kertasnya.
"Apa tulisannya?" tanya Evelyn.
"Sebentar.." ucap Danny. "Kalian mau lihat?"
Rozanne, Lily, Erinna, dan Evelyn segera membaca kertas itu. Isinya adalah :
Kalian berhasil, ya? Bagus! Tunggulah aku di ruang alumni. Ada di salah satu sudut perpustakaan ini.
Valencia Dorrenstone
"Ruang alumni?" tanya Rozanne.
"Aku tahu dimana ruangannya," ucap Evelyn. "Kakakku pernah memberitahukannya padaku,"
Rozanne, Lily, Danny, dan Evelyn sudah bersiap melangkah ke ruang alumni, saat Erinna mencegah.
"Tunggu," cegah Erinna. "Apakah kalian tau, siapa Valencia palsu ini?"
Danny mengamati wajahnya. Wajahnya belum seluruhnya hancur. Tapi, sudah rusak parah.
"Kalau nggak salah dia anak kelas 9 yang bunuh diri 3 bulan tahun lalu," kata Danny.
"Winny Georgsalle? Kalau enggak salah," tebak Erinna.
"Oh, Winny. Aku kenal dia, dia yang bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya dari lantai atas, kan?" kata Lily.
"Iya," ujar Erinna.
"Tapi, dia kan sudah mati. Kok, bisa bergeral dan mengejar kita?" tanya Rozanne sambil merinding.
Wajah Erinna pucat. "Jangan-jangan.."
"Jangan takut-takuti aku, Erinna!" jerit Rozanne.
"Ya sudah, kita jalan lagi," ajak Rozanne dan Danny.
Erinna masih diam di tempat. Mengamati mayat Winny yang sudah tak berbentuk lagi itu. Perlahan, bola mata Winny bergerak-gerak.
"Gyaa!!" seru Erinna, lalu menyusul keempat temannya itu.
***
"Ini pintu ruang alumni," kata Evelyn.
Pintunya terletak di tempat menyimpan barang-barang labolatorium yang telah usang. Pintunya terlihat samar. Juga, ukurannya setengah dari pintu biasa. Evelyn mendobrak pintunya.
BRAK!
Pintu terbuka. Ternyata, tidak terkunci. Namun, sesosok mayat menyambut mereka di pintu. Mayat itu sudah berdarah-darah, tangannya putus satu, dan matanya tidak ada.
"GYAAA!!!" jerit kelima anak itu.
Terutama Evelyn, yang berada paling depan. Untungnya, mayat itu tidak bergerak seperti mayat Winny.
"Huft, itu Edward," ujar Danny.
"Edward?" ulang Rozanne.
"Ya, Edward Rockcross. Dia juga bunuh diri," jawab Danny.
"Ohh.." Rozanne mengangguk-angguk.
Lily mendorong mayat Edward. Bruk! Mayat Edward jatuh.
"Begini sih, gampang," kata Lily.
Mereka segera masuk ke ruang alumni. Di situ, banyak sekali laci-laci berisikan catatan-catatan alumni terdahulu. Raut wajah Lily seketika berubah menjadi sedih.
"Lily, kau kenapa?" tanya Rozanne heran.
Lily menggeleng. "Tidak apa-apa," ucapnya.
Lily lalu membuka salah satu laci alumni 1991-1994. Ia mengambil salah satu catatan. Perlahan, air matanya menetes melihat catatan itu.
"Lily? Kau tidak apa-apa?" tanya Rozanne lagi.
"Sst," Erinna menepuk bahu Rozanne. "Dia mengingat kakaknya, Sunny yang mati bunuh diri disini,"
Rozanne tercekat. "Kakaknya?"
Lily tiba-tiba sudah ada di depan mereka. Air matanya mengucur deras dari matanya.
"Seharusnya, aku tidak lakukan itu padanya. Kak Sunny.. Kalau tidak, dia tidak akan mati! Kenapa aku sebodoh itu!" tangis Lily meraung-raung.
Rozanne kaget. "Li..Lily?! Kau.. Bisa ceritakan padaku!?"
Lily menyeka air matanya. "Dulu, aku hidup bersama seorang adikku dan Ibuku. Ayahku sudah meninggal. Adikku bernama Ritchie. Pada suatu hari, Ibuku menikah dengan ayah Sunny. Berarti, aku dan Ritchie adalah adik tiri Sunny. Umur kami berbeda 2 tahun. Ibuku bersikap beda pada Sunny. Ia sering menyiksa Sunny. Begitu pula aku dan Ritchie. Saat itu, aku kelas 6 dan Sunny kelas 8. Sunny juga bersekolah disini. Karena tidak tahan, Sunny akhirnya bunuh diri. Ketika Sunny sudah meninggal, aku merasa sangat kehilangan. Aku baru sadar, bahwa aku sangat menyayangi Sunny," cerita Lily.
Rozanne dan Erinna mengangguk-angguk mendengar cerita Lily. Lily menyodorkan catatan itu.
"Ini Sunny.." ucapnya.
Rozanne dan Erinna mengamati catatan alumni Sunny. Sunny gadis yang cantik. Rambutnya pirang keemasan, dan matanya hijau tua.
"Hiks.. Aku bersalah.." tangis Lily lagi.
"Kamu enggak salah, Lily.." Rozanne berusaha menghibur Lily.
Disaat begitu, tiba-tiba terdengar jeritan Evelyn.
"AA!!! TOLONG AKU!!"
Rozanne, Lily, dan Erinna kaget. Mereka sadar, Danny dan Evelyn TIDAK ADA di sekitar mereka! Ketiga anak gadis itu lalu mencari Evelyn. Di salah satu sudut, ada banyak percikan darah. Juga... Jeritan Evelyn!
"DANNY! HENTIKAN!!"
"Evelyn!" seru Rozanne.
Ia, Lily, dan Erinna melihat apa yang terjadi.
Astaga!
Tampak, Danny sedang menusuk-nusuk Evelyn. Mata Danny tampak merah.
"Danny!! Hentikan!" jerit Rozanne, berusaha menghentikan Danny.
Danny berbalik. Ia menatap Rozanne. Namun, pandangannya kosong. Evelyn masih menjerit-jerit menahan rasa sakit akibat tusukan Danny. Danny menghunuskan pedangnya ke jantung Rozanne. Seseorang mendorong Rozanne.
"AAA!!!"
Teriakan itu terjadi begitu saja. Bukan dari mulut Rozanne.. Bukan dari mulut Evelyn.. Melainkan dari mulut seorang anak perempuan.. Mischa! Dia adalah salah satu murid kelas 7-H. Mungkin, Mischa mengikuti mereka sampai kesini. Mischa termasuk anak pendiam dan pemurung. Karena kehilangan kakak perempuannya, ia jadi begitu suram.
Mischa langsung jatuh bersimbah darah ke lantai. Tusukan Danny mengenai pinggangnya.
"Aa.." rintih Mischa.
"Mischa!" seru Lily, Erinna, dan Evelyn.
Rozanne mungkin belum mengenal Mischa.
"Mishca... Kau tidak apa-apa?" tanya Lily.
Mischa merintih kesakitan. "A..Aku sakit.. Mungkin aku.. Sebentar lagi.. Meninggal.." rintih Mischa.
"Mischa! Jangan bicara begitu!" seru Erinna.
"Betul.. Aku mengikuti kalian.. Untuk melindungi kalian.. Aku juga, bahagia.. Karena, hidupku jadi berguna.." rintih Mischa.
Perlahan, Mischa menutup matanya.
"Mi..Mischa.." isak Lily.
Rozanne, Lily, Erinna, dan Evelyn menangis melihat kematian Mischa yang mengorbankan hidupnya demi Rozanne. Mungkin, mereka tak pernah memperhatikan Mischa. Dan menganggap Mischa itu aneh.
Tapi, nyatanya, ia telah menyelamatkan nyawa mereka. Dan mengorbankan nyawanya sendiri...
Diam-diam, Danny menghunuskan pedangnya ke arah Rozanne...
#Bersambung
Death School (2)
Aku telah.. Berada di sekolah terkutuk ini.. Blood Junior High School..
Kata-kata itu terus terngiang di benak Rozanne. Bahkan, ketika ia berada di ranjangnya. Rozanne sekamar dengan Lily, Valencia, dan Erinna.
"Kau kenapa bengong?" tanya Valencia.
"Aku.. Aku.. Aku terpukul, karena telah berada di sini.." jawab Rozanne tercekat.
"Tenanglah. Asal mentalmu kuat sampai upacara kelulusan, kau tak akan bunuh diri," ucap Lily.
Rozanne menarik rambutnya sendiri. "Sehari saja, sudah membuatku gila! Bagaimana kalau... 3 tahun?!"
"Beruntung kalau cuma 3 tahun," kata Erinna pelan. "Sekolah ini selalu mengtidak luluskan murid mereka. Mereka tidak ingin rahasia ini tersebar luas. Kadang, murid yang lulus justru dibunuh," cerita Erinna.
"Harusnya aku sudah kelas 8, namun mereka tidak mengizinkan aku naik kelas," ujar Lily.
Rozanne cuma bisa meratapi nasibnya karena telah masuk Blood Junior High School.
***
"Tolong! Tolong aku!!"
"Diamlah, Valencia! Kami butuh kau!"
"Aku tidak mau DIBUNUH!!"
"Kau tidak akan dibunuh selama kau diam, dan menuruti perintah kami,"
"Tapi apa yang harus kulakukan?"
"Begini. Kau bisa..."
"Hah!?!" Rozanne bangun dengan perasaan tak karuan.
Rozanne melirik jam dinding. Masih jam setengah empat pagi. Mimpinya tadi betul-betul menegangkan. Dan, siapa yang bicara di mimpinya, ya? Satunya Valencia, dan satunya lagi? Juga, perintah apa? Rozanne melihat kedua temannya sedang tertidur lelap. Lily dan Erinna. Tapi... Dimana Valencia?
"Lily! Erinna! Bangun!" seru Rozanne.
"Hah? Ada apa?" tanya Erinna.
"Uh.. Kenapa?" tanya Lily.
"Valencia hilang!" jawab Rozanne.
Lily dan Erinna bangkit. Mereka sama kagetnya dengan Rozanne. Valencia hilang!
"Mungkin ia bersembunyi! Bisa saja kan?" tebak Erinna.
"Kalau saja Valencia humoris, tebakkan itu bisa menenangkanku SEMENTARA," kata Lily. "Valencia sangat serius, dan tak mau membuang waktu cuma untuk main petak umpet!" tukas Lily.
"Sikap orang kan bisa berubah," ucap Erinna.
Ia mencari-cari Valencia. Namun, hasilnya nihil. Valencia Dorrenstone menghilang! Padahal, pintu masih terkunci. Dan kuncinya ada di tangan Lily.
"Ini aneh!" seru Rozanne. "Jangan-jangan, Valencia diculik!"
"Nggak mungkin," kata Lily. "Pintunya kan, terkunci!"
Rozanne lalu menceritakan mimpinya pada Lily dan Erinna. Lily cuma mengangguk-angguk, sedangkan Erinna sangat histeris.
"Kalau begitu, siapa orang yang satunya?" tanya Lily datar pada Rozanne.
Rozanne mengangkat bahu. "Aku nggak tau.."
"Hei! Lihat, apa yang kutemukan!" seru Erinna.
Rozanne dan Lily segera menghampiri Erinna. Erinna memegang selembar kertas lusuh. Kertas itu bertuliskan :
Rozanne, Lily, Erinna. Aku mohon kalian pergi ke perpustakaan. Pada hari ini, jam lima sore. Kutunggu kalian disana dan aku akan menjelaskan kenapa sekarang aku tidak ada di kamar.
Valencia Dorrenstone.
Dan ada tetes-tetes darah di kertas itu.
"Valencia diculik! Benar, kan!" seru Rozanne.
Lily menggeleng. "Tidak. Dia TIDAK diculik. Dia hanya BERPURA-PURA," kata Lily.
"Berpura-pura?" ulang Rozanne.
Lily mengangguk. "Ya. Dia disuruh oleh seseorang. Jika ia diculik, tidak mungkin Valencia bisa menulis surat. Dan kenapa cuma Valencia? Dan kenapa, pintunya tetap terkunci? Itu artinya, Valencia berpura-pura," jelas Lily.
"Lalu, bagaimana caranya Valencia keluar dari kamar, jika kuncinya dipegang Lily?" tanya Erinna.
"Valencia dan seseorang telah merencanakan ini. Rozanne, di mimpimu, ada suara Valencia dan seseorang, bukan?" tanya Lily.
Rozanne mengangguk. "Iya. Dan orang itu mengancam Valencia,"
"Cuma Mr.Roghball dan Mrs.Wellyionstay, wakil kepala sekolah. Yang mempunyai semua kunci asrama," kata Lily pelan. "Itu artinya, satu diantara mereka yang merencanakan ini dengan Valencia," jelas Lily.
Rozanne dan Erinna terdiam. Penjelasan Lily cukup masuk akal.
"Jadi.. Apakah kita pergi ke perpustakaan nanti?" tanya Rozanne.
Lily mengangguk. "Ya. Dan aku harap kita dapat mengajak Evelyn atau Danny. Mereka mungkin berguna,"
***
Kini, Rozanne, Lily, dan Erinna sudah ada di kelas. Mereka mengajak Evelyn dan Danny untuk berdiskusi.
"Ada apa, sih?" tanya Danny.
Lily yang pandai bicara menceritakan tujuan mereka. Ditambah penjelasan dari Rozanne.
"Yah... Aku sih mau-mau saja," ujar Danny.
"Begitu juga aku!" kata Evelyn.
"Oke, kita bersama-sama ke perpustakaan jam lima sore," Lily menutup pembicaraan.
***
Five O'clock. In Blood Junior High School library..
"Huh, Evelyn dan Danny lama sekali!" gerutu Erinna.
"Iya. Nanti telat," keluh Lily.
"Hei! Itu mereka!" seru Rozanne.
Ya, dari kejauhan tampak Evelyn dan Danny. Evelyn membawa busur dan panah, sedangkan Danny membawa pedang besar.
"Lho? Kalian buat apa bawa senjata?" tanya Rozanne heran.
"Kita nggak tau akan ada apa disana. Apakah Mr.Roghball atau siapa," jawab Evelyn.
"Tapi... Kita tidak bawa apa-apa!" seru Erinna.
"Sudah kuduga," Danny mengeluarkan beberapa pisau, panah dan busur, pedang, dan belati.
Ia membagikannya pada Rozanne, Lily, dan Erinna. Rozanne mendapatkan busur dan panah, beserta pisau. Lily mendapatkan pedang besar. Dan Erinna mendapatkan dua belati.
"Wow, darimana kau mendapatkan ini, Danny Ousttrichia?" tanya Erinna.
"Cukup mudah. Mencuri dari ruang bunuh diri," jawab Danny.
"Untuk apa pisau-pisau yang banyak itu?" tanya Rozanne.
"Pasti kita akan membutuhkannya," jawab Danny.
Tanpa mereka sadari, sebuah sosok mengawasi kelima anak itu.
***
"Ayo kita masuk," ajak Lily pelan.
Keempat temannya mengangguk. Mereka lalu mulai masuk ke dalam perpustakaan. Mata mereka siaga mengawasi keadaan.
"Tolong!"
Terdengar seruan. Seruan Valencia.
"Valencia!"
Rozanne berlari ke asal suara. Ia terkesiap. Valencia berdiri di hadapannya. Tangannya diikat, rambutnya awut-awutan, wajahnya belepotan darah, dan mata kirinya... Tidak ada!
"Valencia.." desis Rozanne kaget.
"Tolong!" seru Valencia lagi.
Rozanne mendekati Valencia. Namun, sebelum Rozanne menyentuh Valencia, Lily datang beserta Erinna, Evelyn, dan Danny. Lily langsung menarik Rozanne untuk menjauh.
"Jangan dekati dia! Itu jebakan, Rozanne!" cegah Lily.
"Jebakan? Maksudmu?" ulang Rozanne heran.
"Biar kujawab," kata Evelyn.
Evelyn membidik panahnya pada Valencia. Valencia kaget, dan meraung-raung. Menangis.
"Jangan! Evelyn!" teriak Rozanne.
Dan... Evelyn melepaskan anak panahnya. Anak panah Evelyn melesat cepat menuju wajah Valencia.
Aneh! Ia melompat menuju salah satu rak buku.
"Lho? Bagaimana bisa?!" cetus Rozanne kaget.
Perlahan.. Wajah Valencia mulai meleleh. Darah mengucur mengotori rak buku dan buku-buku disitu.
"Kita harus pergi!" seru Erinna.
Kelima anak itu berlari menjauhi Valencia. Rozanne menatap ke belakang. Ia kaget. Kini, wajah Valencia rusak total. Lehernya hampir putus, dan tangan kirinya hampir busuk. Itu.. Bukan Valencia!
Valencia palsu mengejar mereka.
"Kyaaa!!" jerit Erinna.
Ia tersandung lantai perpustakaan yang menonjol. Monster itu mendekati Erinna. Tangannya yang hampir busuk mulai bersiap menyentuh Erinna.
"KYAAAA!!! TOLONG AKU!!!!!"
#Bersambung
Kata-kata itu terus terngiang di benak Rozanne. Bahkan, ketika ia berada di ranjangnya. Rozanne sekamar dengan Lily, Valencia, dan Erinna.
"Kau kenapa bengong?" tanya Valencia.
"Aku.. Aku.. Aku terpukul, karena telah berada di sini.." jawab Rozanne tercekat.
"Tenanglah. Asal mentalmu kuat sampai upacara kelulusan, kau tak akan bunuh diri," ucap Lily.
Rozanne menarik rambutnya sendiri. "Sehari saja, sudah membuatku gila! Bagaimana kalau... 3 tahun?!"
"Beruntung kalau cuma 3 tahun," kata Erinna pelan. "Sekolah ini selalu mengtidak luluskan murid mereka. Mereka tidak ingin rahasia ini tersebar luas. Kadang, murid yang lulus justru dibunuh," cerita Erinna.
"Harusnya aku sudah kelas 8, namun mereka tidak mengizinkan aku naik kelas," ujar Lily.
Rozanne cuma bisa meratapi nasibnya karena telah masuk Blood Junior High School.
***
"Tolong! Tolong aku!!"
"Diamlah, Valencia! Kami butuh kau!"
"Aku tidak mau DIBUNUH!!"
"Kau tidak akan dibunuh selama kau diam, dan menuruti perintah kami,"
"Tapi apa yang harus kulakukan?"
"Begini. Kau bisa..."
"Hah!?!" Rozanne bangun dengan perasaan tak karuan.
Rozanne melirik jam dinding. Masih jam setengah empat pagi. Mimpinya tadi betul-betul menegangkan. Dan, siapa yang bicara di mimpinya, ya? Satunya Valencia, dan satunya lagi? Juga, perintah apa? Rozanne melihat kedua temannya sedang tertidur lelap. Lily dan Erinna. Tapi... Dimana Valencia?
"Lily! Erinna! Bangun!" seru Rozanne.
"Hah? Ada apa?" tanya Erinna.
"Uh.. Kenapa?" tanya Lily.
"Valencia hilang!" jawab Rozanne.
Lily dan Erinna bangkit. Mereka sama kagetnya dengan Rozanne. Valencia hilang!
"Mungkin ia bersembunyi! Bisa saja kan?" tebak Erinna.
"Kalau saja Valencia humoris, tebakkan itu bisa menenangkanku SEMENTARA," kata Lily. "Valencia sangat serius, dan tak mau membuang waktu cuma untuk main petak umpet!" tukas Lily.
"Sikap orang kan bisa berubah," ucap Erinna.
Ia mencari-cari Valencia. Namun, hasilnya nihil. Valencia Dorrenstone menghilang! Padahal, pintu masih terkunci. Dan kuncinya ada di tangan Lily.
"Ini aneh!" seru Rozanne. "Jangan-jangan, Valencia diculik!"
"Nggak mungkin," kata Lily. "Pintunya kan, terkunci!"
Rozanne lalu menceritakan mimpinya pada Lily dan Erinna. Lily cuma mengangguk-angguk, sedangkan Erinna sangat histeris.
"Kalau begitu, siapa orang yang satunya?" tanya Lily datar pada Rozanne.
Rozanne mengangkat bahu. "Aku nggak tau.."
"Hei! Lihat, apa yang kutemukan!" seru Erinna.
Rozanne dan Lily segera menghampiri Erinna. Erinna memegang selembar kertas lusuh. Kertas itu bertuliskan :
Rozanne, Lily, Erinna. Aku mohon kalian pergi ke perpustakaan. Pada hari ini, jam lima sore. Kutunggu kalian disana dan aku akan menjelaskan kenapa sekarang aku tidak ada di kamar.
Valencia Dorrenstone.
Dan ada tetes-tetes darah di kertas itu.
"Valencia diculik! Benar, kan!" seru Rozanne.
Lily menggeleng. "Tidak. Dia TIDAK diculik. Dia hanya BERPURA-PURA," kata Lily.
"Berpura-pura?" ulang Rozanne.
Lily mengangguk. "Ya. Dia disuruh oleh seseorang. Jika ia diculik, tidak mungkin Valencia bisa menulis surat. Dan kenapa cuma Valencia? Dan kenapa, pintunya tetap terkunci? Itu artinya, Valencia berpura-pura," jelas Lily.
"Lalu, bagaimana caranya Valencia keluar dari kamar, jika kuncinya dipegang Lily?" tanya Erinna.
"Valencia dan seseorang telah merencanakan ini. Rozanne, di mimpimu, ada suara Valencia dan seseorang, bukan?" tanya Lily.
Rozanne mengangguk. "Iya. Dan orang itu mengancam Valencia,"
"Cuma Mr.Roghball dan Mrs.Wellyionstay, wakil kepala sekolah. Yang mempunyai semua kunci asrama," kata Lily pelan. "Itu artinya, satu diantara mereka yang merencanakan ini dengan Valencia," jelas Lily.
Rozanne dan Erinna terdiam. Penjelasan Lily cukup masuk akal.
"Jadi.. Apakah kita pergi ke perpustakaan nanti?" tanya Rozanne.
Lily mengangguk. "Ya. Dan aku harap kita dapat mengajak Evelyn atau Danny. Mereka mungkin berguna,"
***
Kini, Rozanne, Lily, dan Erinna sudah ada di kelas. Mereka mengajak Evelyn dan Danny untuk berdiskusi.
"Ada apa, sih?" tanya Danny.
Lily yang pandai bicara menceritakan tujuan mereka. Ditambah penjelasan dari Rozanne.
"Yah... Aku sih mau-mau saja," ujar Danny.
"Begitu juga aku!" kata Evelyn.
"Oke, kita bersama-sama ke perpustakaan jam lima sore," Lily menutup pembicaraan.
***
Five O'clock. In Blood Junior High School library..
"Huh, Evelyn dan Danny lama sekali!" gerutu Erinna.
"Iya. Nanti telat," keluh Lily.
"Hei! Itu mereka!" seru Rozanne.
Ya, dari kejauhan tampak Evelyn dan Danny. Evelyn membawa busur dan panah, sedangkan Danny membawa pedang besar.
"Lho? Kalian buat apa bawa senjata?" tanya Rozanne heran.
"Kita nggak tau akan ada apa disana. Apakah Mr.Roghball atau siapa," jawab Evelyn.
"Tapi... Kita tidak bawa apa-apa!" seru Erinna.
"Sudah kuduga," Danny mengeluarkan beberapa pisau, panah dan busur, pedang, dan belati.
Ia membagikannya pada Rozanne, Lily, dan Erinna. Rozanne mendapatkan busur dan panah, beserta pisau. Lily mendapatkan pedang besar. Dan Erinna mendapatkan dua belati.
"Wow, darimana kau mendapatkan ini, Danny Ousttrichia?" tanya Erinna.
"Cukup mudah. Mencuri dari ruang bunuh diri," jawab Danny.
"Untuk apa pisau-pisau yang banyak itu?" tanya Rozanne.
"Pasti kita akan membutuhkannya," jawab Danny.
Tanpa mereka sadari, sebuah sosok mengawasi kelima anak itu.
***
"Ayo kita masuk," ajak Lily pelan.
Keempat temannya mengangguk. Mereka lalu mulai masuk ke dalam perpustakaan. Mata mereka siaga mengawasi keadaan.
"Tolong!"
Terdengar seruan. Seruan Valencia.
"Valencia!"
Rozanne berlari ke asal suara. Ia terkesiap. Valencia berdiri di hadapannya. Tangannya diikat, rambutnya awut-awutan, wajahnya belepotan darah, dan mata kirinya... Tidak ada!
"Valencia.." desis Rozanne kaget.
"Tolong!" seru Valencia lagi.
Rozanne mendekati Valencia. Namun, sebelum Rozanne menyentuh Valencia, Lily datang beserta Erinna, Evelyn, dan Danny. Lily langsung menarik Rozanne untuk menjauh.
"Jangan dekati dia! Itu jebakan, Rozanne!" cegah Lily.
"Jebakan? Maksudmu?" ulang Rozanne heran.
"Biar kujawab," kata Evelyn.
Evelyn membidik panahnya pada Valencia. Valencia kaget, dan meraung-raung. Menangis.
"Jangan! Evelyn!" teriak Rozanne.
Dan... Evelyn melepaskan anak panahnya. Anak panah Evelyn melesat cepat menuju wajah Valencia.
Aneh! Ia melompat menuju salah satu rak buku.
"Lho? Bagaimana bisa?!" cetus Rozanne kaget.
Perlahan.. Wajah Valencia mulai meleleh. Darah mengucur mengotori rak buku dan buku-buku disitu.
"Kita harus pergi!" seru Erinna.
Kelima anak itu berlari menjauhi Valencia. Rozanne menatap ke belakang. Ia kaget. Kini, wajah Valencia rusak total. Lehernya hampir putus, dan tangan kirinya hampir busuk. Itu.. Bukan Valencia!
Valencia palsu mengejar mereka.
"Kyaaa!!" jerit Erinna.
Ia tersandung lantai perpustakaan yang menonjol. Monster itu mendekati Erinna. Tangannya yang hampir busuk mulai bersiap menyentuh Erinna.
"KYAAAA!!! TOLONG AKU!!!!!"
#Bersambung
The Death School (1)
Semua pasti tahu, tujuan kita bersekolah adalah untuk menuntut ilmu. Tapi, bagaimana kalau murid-murid bersekolah cuma untuk BUNUH DIRI? Itu tidak masuk akal. Tapi memang itulah yang terjadi pada Blood Junior High School.
Sekolah asrama SMP ini besar, terkenal, kelam, dan... Penuh darah dan jeritan. Kepala sekolah SMP ini adalah Mr.Roghball. Dia juga pendiri sekolah ini. Mr.Roghball sepertinya sengaja mendirikan sekolah ini untuk murid-murid yang depresi.
Dia menyediakan beberapa ruang bunuh diri. Para murid yang ingin bunuh diri, bisa memilih dengan apa mereka bunuh diri. Menjatuhkan diri dari lantai teratas, gantung diri, menyilet tangan, tenggelam, atau minta dibunuh. Dengan cara ditusuk, ditembak, atau dicekik, atau pula diracuni.
Sekolah ini memang aneh. Dan orang tua-orang tua yang menyekolahkan anak mereka di sekolah ini lebih aneh lagi. Dan tidak waras. Menyekolahkan anaknya untuk bunuh diri? Tidak masuk akal. Beberapa dari orang tua itu tidak tahu. Mereka menyekolahkan anak mereka disini karena, SPP-nya murah, nemnya rendah, dan fasilitasnya lumayan memadai.
Ketika anak-anak mereka mati di sekolah, guru-guru memberi alasan. Ada yang bilang mereka bunuh diri sendiri, atau kecelakaan. Kebanyakan orang tua mempercayai hal ini, dan sebagian tidak. Namun, sulit untuk menuntut sekolah ini. Karena mereka tidak punya bukti. Dan mayat para anak mereka diberikan.
Tapi... Mereka salah! Itu bukan mayat anak-anak mereka. Itu cuma tiruan yang dibuat sangat mendetail sehingga bisa busuk layaknya mayat. Mayat-mayat murid yang asli, mereka SIMPAN di ruangan menuju ruang kepala sekolah, ruangan tersembunyi, dan ruangan aneh yang isinya tidak diketahui.
Mayat-mayat murid itu dibiarkan setengah busuk, baru diawetkan. Namun, tidak betul-betul di awetkan. Darah masih mengalir, dan bau busuk masih tercium. Pengawetan itu cuma bertujuan agar mayat murid-murid tidak hancur.
Kurasa, kita harus mulai ceritanya sekarang. Tentang seorang anak yang berhasil menghancurkan Blood Junior High School, sekolah terkutuk yang sangat kelam...
***
Miss Annie menyeret seorang murid perempuan. Gadis itu bernama Rozanne Willow. Kalian bisa memanggilnya, Rozanne. Dia berambut pirang kelabu dan bermata hijau. Miss Annie membuka pintu kelas 7-F. Di sana, murid-murid itu sedang menunggu gurunya datang. Murid-murid itu memandang Rozanne dengan tatapan aneh.
"Selamat pagi. Dia adalah murid baru di kelas kita. Perkenalkan dirimu," kata Miss Annie dingin dan singkat.
"Namaku Rozanne Willow! Kalian boleh panggil aku Rozanne, atau Roza, atau Anne. Aku pindahan dari Victorie Junior High.."
"Sudah cukup perkenalannya! Kau, duduk disamping Valencia Dorrenstone yang berambut hitam," potong Miss Annie.
"Baik.." jawab Rozanne.
Ia kesal karena omongannya dipotong guru barunya di sekolah barunya, Miss Annie. Ia segera duduk di samping Valencia.
"Hai!" sapa Rozanne.
Valencia cuma memandang Rozanne dingin, tidak membalas sapaannya. Rozanne bungkam.
"Kenapa sih, semua murid dan guru di sekolah ini?" batin Rozanne kesal.
Miss Annie mengajar dengan dingin, singkat, dan ketus. Suasana kelas pun hening dan dingin. Bel istirahat berbunyi. Semua murid segera keluar kelas.
"Huh, aku ingin pindah sekolah lagi," gerutu Rozanne pelan.
Seorang gadis berambut cokelat kemerahan tiba-tiba menepuk bahunya.
"Namaku Lily Turner," ucapnya.
"Oh, aku Rozanne," balas Rozanne sedikit gembira, karena ada murid yang mau menyapanya.
Ia dan Lily lalu pergi ke kantin. Makanannya sungguh buruk, sama dengan suasana kantin. Jorok, kotor, dan bau. Ditambah, banyak lalat.
"Ih, kotor banget," komentar Rozanne.
"Aku tahu, Rozanne. Aku juga benci makan disini," kata Lily.
"Aku enggak mau makan, deh," ujar Rozanne.
"Oh, ya sudah. Aku juga enggak,"
Rozanne dan Lily akhirnya pergi ke kelas.
"Kenapa sih, semua disini dingin?" tanya Rozanne.
Langkah Lily terhenti, lalu menghela napas.
"Aku menyesal telah bersekolah disini, Rozanne. Ada rahasia di sekolah ini," Perkataan Lily terhenti.
Karena ada ribut-ribut.
"Suara apa itu?!" tanya Rozanne panik.
"Ayo kita ke asal suara. Dan kau akan tahu, kenapa aku menyesal telah bersekolah disini," ajak Lily.
Rozanne mengikuti Lily.
***
Di asal suara, ternyata di sebuah ruangan. Rozanne sempat membaca plang namanya.
RUANGAN BUNUH DIRI.
"Apa!?" cetus Rozanne kaget.
Ia dan Lily masuk ke dalam ruangan itu. Disitu, adalah seorang lelaki berambut abu-abu dan bermata sendu. Tangannya diikat. Di belakangnya, ada guru-guru, beserta Mr.Roghball yang memegang pistol.
"Upacara bunuh diri dimulai!" seru salah satu guru.
Lelaki itu mulai bicara. "Aku Robby Cariesto. Bunuh diri karena depresi tidak pernah di perhatikan orang tuaku. Dan aku ingin aku dibunuh dengan cara ditembak, dan organ tubuhku silahkan kalian ambil dan awetkan," kata lelaki yang ternyata bernama Robby.
Suara gendang dibunyikan. Dan Mr.Roghball menembakkan pelatuk pistol ke jantung Robby.
Dor!
Mata Robby membelalak, lalu ia jatuh. Meninggal. Terdengar sorak sorai dari murid-murid. Mr.Roghball lalu mengeluarkan sebuah pisau tajam. Ia segera menusuk, dan merobet perut Robby. Lalu mengeluarkan organ tubuhnya. Jantung, hati, usus, ginjal...
"Kejam!" jerit Rozanne.
"Ini yang kami lakukan, hampir tiap hari. Atau tiap beberapa hari," kata Lily.
"Apakah... Semua murid mengalami hal ini?" tanya Rozanne tercekat.
Lily menggeleng. "Tidak semua, cuma yang berniat bunuh diri. Tapi, sekolah ini pasti akan memberi depresi berat pada murid-murid. Dan membuat mereka ingin bunuh diri," jelas Lily.
Rasanya, Rozanne hampir saja pingsan. Ia telah berada di sekolah terkutuk ini...
Blood Junior High School...
Rabu, 02 Januari 2013
Cari-Cari Kado
Hai!
Tadi, Mikan iseng-iseng ke Id*lmart (toko serba ada, termasuk PESAWAT-,-"). Mikan mau beli kado ultah Best Friend Forever Tak Akan Terpisahkan Selamanya Bersama Sama-Sama Nggak Normal (kebanyakan, hoi!-,-)
Iya iya, pokoknya Mikan beli kado ultah sahabat Mikan. Namanya Erliana Muchtar. Uhuk uhuk, bagus kan, namanya?? (huu-,-")
Dia ultahnya besok, 3 Januari, tapi Mikan akan ngucapinnya hari Sabtu tanggal 5 Januari -,-" Soalnya besok dan Jum'at Mikan nggak ada di rumah -,-"
Jadilah, hari sabtu 5 Januari -,-"
Biarlah telat, daripada tidak sama sekali (ceilah-,-"Mikan ceramah-,-")
Sampe di Id*lmart tuh, aku sama mamaku keluyuran (?) Maksudnya, aku nyari kado. Sedangkan mamaku enggak tau liat-liat apa tuh. Nah, aku nyari-nyariin di mana bagian tempat pensil. Nyari-nyari, keliling-keliling, muter-muter-,-, nggak taunya tempat pensilnya ada di rak bawah -,-"
Jadilah, aku mulai milih-milih tempat pensilnya. Di pemilihan pertama itu (?) aku nggak dapet tempat pensilnya gara-gara 3 anak yang merhatiin aku terus-terusan -,-"
Aku jadi merasa kayak buronan -,-"
Ku lirik balik dengan tatapan sinis khas Kusanagi Mikan (ceilah-,-) Itu anak malah tambah ngeliatin -,-"
Kalau aku nggak inget nggak ada penjaga / ortunya, udah kubentak anaknya -,-"
Biasalah, preman sekolahan #apa2an itu -,-"
Oke oke, back to story #ceilah-,-"
Aku nggak tahan gara-gara diliatin terus, akhirnya, aku liat-liat bon buat toko -,-" Nggak ada gunanya banget -,-"
Aku liat lagi, tu anak udah pergi tuh -,-"
Jadilah, aku langsung liat-liat lagi. Kupilih-pilih, nggak ada yang bagus -,-"
Kuliat lagi ke depan... Ada tempat pensil bagus, nih! Menurutku sih, gitu. Simple, murah lagi -,-"
Jadilah, kupilih tempat pensil itu. Disertai pulpen 2 biji. Aku juga beli pulpen banyak, sih ._.
Nyampe di rumah, makan, terus...
Nge bungkus kado!
Ku bungkus dan di kasi solasi berlapis-lapis karena copot terus -,-" Akhirnya, jadi! Kotak dengan pita lapis (?) di atasnya (bisa kebayang kan, bentuknya gimana?)
Nah nah, akhirnya...
Selesai!
Aku enggak tau apa Elin suka apa enggak dengan kadoku ._. Aku harap sih, suka!
Karena aku menyiapkan kado itu dengan penuh rasa kasih sayang!! *eh? -,-"
Salah salah, maksudnya rasa persahabatan -,-"
Hoahhhmm....
Mikan mau tidur dulu, ya. Tapi sebelumnya Mikan mau baca cerita #siapa peduli!?!?
Oke oke, bye! See you next time!! ;)
Tadi, Mikan iseng-iseng ke Id*lmart (toko serba ada, termasuk PESAWAT-,-"). Mikan mau beli kado ultah Best Friend Forever Tak Akan Terpisahkan Selamanya Bersama Sama-Sama Nggak Normal (kebanyakan, hoi!-,-)
Iya iya, pokoknya Mikan beli kado ultah sahabat Mikan. Namanya Erliana Muchtar. Uhuk uhuk, bagus kan, namanya?? (huu-,-")
Dia ultahnya besok, 3 Januari, tapi Mikan akan ngucapinnya hari Sabtu tanggal 5 Januari -,-" Soalnya besok dan Jum'at Mikan nggak ada di rumah -,-"
Jadilah, hari sabtu 5 Januari -,-"
Biarlah telat, daripada tidak sama sekali (ceilah-,-"Mikan ceramah-,-")
Sampe di Id*lmart tuh, aku sama mamaku keluyuran (?) Maksudnya, aku nyari kado. Sedangkan mamaku enggak tau liat-liat apa tuh. Nah, aku nyari-nyariin di mana bagian tempat pensil. Nyari-nyari, keliling-keliling, muter-muter-,-, nggak taunya tempat pensilnya ada di rak bawah -,-"
Jadilah, aku mulai milih-milih tempat pensilnya. Di pemilihan pertama itu (?) aku nggak dapet tempat pensilnya gara-gara 3 anak yang merhatiin aku terus-terusan -,-"
Aku jadi merasa kayak buronan -,-"
Ku lirik balik dengan tatapan sinis khas Kusanagi Mikan (ceilah-,-) Itu anak malah tambah ngeliatin -,-"
Kalau aku nggak inget nggak ada penjaga / ortunya, udah kubentak anaknya -,-"
Biasalah, preman sekolahan #apa2an itu -,-"
Oke oke, back to story #ceilah-,-"
Aku nggak tahan gara-gara diliatin terus, akhirnya, aku liat-liat bon buat toko -,-" Nggak ada gunanya banget -,-"
Aku liat lagi, tu anak udah pergi tuh -,-"
Jadilah, aku langsung liat-liat lagi. Kupilih-pilih, nggak ada yang bagus -,-"
Kuliat lagi ke depan... Ada tempat pensil bagus, nih! Menurutku sih, gitu. Simple, murah lagi -,-"
Jadilah, kupilih tempat pensil itu. Disertai pulpen 2 biji. Aku juga beli pulpen banyak, sih ._.
Nyampe di rumah, makan, terus...
Nge bungkus kado!
Ku bungkus dan di kasi solasi berlapis-lapis karena copot terus -,-" Akhirnya, jadi! Kotak dengan pita lapis (?) di atasnya (bisa kebayang kan, bentuknya gimana?)
Nah nah, akhirnya...
Selesai!
Aku enggak tau apa Elin suka apa enggak dengan kadoku ._. Aku harap sih, suka!
Karena aku menyiapkan kado itu dengan penuh rasa kasih sayang!! *eh? -,-"
Salah salah, maksudnya rasa persahabatan -,-"
Hoahhhmm....
Mikan mau tidur dulu, ya. Tapi sebelumnya Mikan mau baca cerita #siapa peduli!?!?
Oke oke, bye! See you next time!! ;)
Dream ^^
Hai semua!
Tebak, semalem Mikan mimpi apa hayo??
Tebak tebak!
Semalem, Mikan mimpi ketemu idola Mikan!
Hei hei, jangan berpikiran kalau idola Mikan itu "if you know who's I mean" -,-"
Bukan bukan, Mikan nggak pernah mimpiin dia akhir2 ini. Yang Mikan maksud idola Mikan adalah... Ehm ehm, nanti orangnya baca lagi. Nggak jadi ah #ditimpukin -,-"
Pake inisial aja, ya??
Mikan takut orangnya baca, nih -,-"
Inisialnya adalah huruf....
N!
Nah, kalian tau kan maksudnya? Pokoknya, dia itu manusia #ditimpukin N. -,-"
Oke oke, Mikan bakal ceritain mimpi Mikan -,-""
***
Mikan berangkat ke sekolah. Nah, kami enggak belajar, tuh. Sama guru2, aku dan temen2ku disuruh bagi ke kelompok-kelompok. Ya udah, aku dimasukin ke salah satu kelompok yang semua anggotanya enggak aku kenal.
Elin sama Kuciah, temenku, enggak tau di masukin ke kelompok mana. Setiap kelompok harus jalan nyari entah apa gitu. Pokoknya kami keliling-keliling ke daerah sekitar sekolahan. Kesiksa banget. Udah mana lagi ujan, tuh.
Lama-lama, aku nyadar.
Kok kayaknya, aku kenal sama anak cewe yang di belakangku ya?
Eh, kulihat lagi, enggak taunya itu si N.! Enggak salah lagi! Kenalanku dari facebook. Sekalipun aku enggak begitu inget mukanya, aku yakin banget itu si N.
Terus, aku juga baru nyadar. Kalau rombonganku isinya anak SMA semua -,-"
Gimana caranya coba ada anak SMA nyasar ke SD -,-"
Udah mana, si N. kan tinggalnya di kota M**a*g. (kenapa disensor!?-,-)
Enggak mungkin nyasar ke Jakarta -,-'
Habis itu, aku enggak inget lagi gara2 mamaku ngetuk2 pintu -,-" Nggak taunya udah jam 9 -,-"
Ngantuk banget!
Aku tidur jam 1 malem -,-"
Nggak bisa tidur -,-"
Ah, sudahlah. Doain Mikan bisa tidur awal ya -,-"
Bye, see you next time #sok inggris -,-"
Tebak, semalem Mikan mimpi apa hayo??
Tebak tebak!
Semalem, Mikan mimpi ketemu idola Mikan!
Hei hei, jangan berpikiran kalau idola Mikan itu "if you know who's I mean" -,-"
Bukan bukan, Mikan nggak pernah mimpiin dia akhir2 ini. Yang Mikan maksud idola Mikan adalah... Ehm ehm, nanti orangnya baca lagi. Nggak jadi ah #ditimpukin -,-"
Pake inisial aja, ya??
Mikan takut orangnya baca, nih -,-"
Inisialnya adalah huruf....
N!
Nah, kalian tau kan maksudnya? Pokoknya, dia itu manusia #ditimpukin N. -,-"
Oke oke, Mikan bakal ceritain mimpi Mikan -,-""
***
Mikan berangkat ke sekolah. Nah, kami enggak belajar, tuh. Sama guru2, aku dan temen2ku disuruh bagi ke kelompok-kelompok. Ya udah, aku dimasukin ke salah satu kelompok yang semua anggotanya enggak aku kenal.
Elin sama Kuciah, temenku, enggak tau di masukin ke kelompok mana. Setiap kelompok harus jalan nyari entah apa gitu. Pokoknya kami keliling-keliling ke daerah sekitar sekolahan. Kesiksa banget. Udah mana lagi ujan, tuh.
Lama-lama, aku nyadar.
Kok kayaknya, aku kenal sama anak cewe yang di belakangku ya?
Eh, kulihat lagi, enggak taunya itu si N.! Enggak salah lagi! Kenalanku dari facebook. Sekalipun aku enggak begitu inget mukanya, aku yakin banget itu si N.
Terus, aku juga baru nyadar. Kalau rombonganku isinya anak SMA semua -,-"
Gimana caranya coba ada anak SMA nyasar ke SD -,-"
Udah mana, si N. kan tinggalnya di kota M**a*g. (kenapa disensor!?-,-)
Enggak mungkin nyasar ke Jakarta -,-'
Habis itu, aku enggak inget lagi gara2 mamaku ngetuk2 pintu -,-" Nggak taunya udah jam 9 -,-"
Ngantuk banget!
Aku tidur jam 1 malem -,-"
Nggak bisa tidur -,-"
Ah, sudahlah. Doain Mikan bisa tidur awal ya -,-"
Bye, see you next time #sok inggris -,-"
Langganan:
Postingan (Atom)