Jumat, 22 Maret 2013

I'm Sorry, My Friends... (1)

Vocaloid © CyrptonFM and Yamaha Corp. 
I'm Sorry, My Friends... © Kusanagi Mikan N.

Haloo!! Aku Kagamine Mikan, ini fanfic pertamaku. Makanya masih jelek. Tokoh utamanya Kagamine Rin dan Len kesukaanku :3 Check it out!


--------- Normal P o V -------

    Seorang gadis berambut blonde melangkahkan kaki menuju sekolah itu. Ada plang nama di depan sekolah itu. Tokyo International School. Sudah jelas itu sekolah internasional yang berada di Tokyo, Jepang. Walau internasional, kebanyakan yang bersekolah disekolah itu adalah anak-anak Jepang.
Sekolah ini terdiri dari SMP dan SMA. Kembali ke gadis tadi. Gadis itu hampir menapakkan kakinya masuk ke gerbang sekolah, saat seseorang memanggilnya.
    "Riiiiinnnnn!! Tunggu aku!" seru seseorang itu, seorang lelaki
    Gadis yang ternyata bernama Rin itu berhenti dan menoleh ke lelaki yang juga berambut blonde dan bermata biru sepertinya. "Cepatlah, Len! Kau lambat sekali!" gerutu Rin pada lelaki itu, Len.
    Untungnya, Len menyusul Rin dengan cepat. Dari wajah mereka, terlihat jelas kalau mereka kembar. Yup, Kagamine Rin dan Len.
   "Bisa-bisanya kau meninggalkanku!" gerutu Len.
   "Habis kau lambat sekali! Daripada telat, kutinggal saja," balas Rin sambil berpose :P
   "Ya sudahlah. Yuk, ke kelas!" ajak Len.
   Rin hanya mengangguk. Len berlari lebih dulu, memasuki bangunan sekolah yang memuat kelas-kelas serta berbagai ruangan lainnya. Rin berjalan dengan lesu, mengingat mimpinya semalam. Juga kata-kata yang terus menerus terngiang di telinganya.
   "Bunuh, bunuh mereka semua. Jangan sampai ada yang tersisa."
   Bunuh mereka semua? Siapa? Siapa yang harus ia bunuh? Dan kenapa? Semua pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiran Rin.
   "Rin! Kagamine Rin!" seru seorang wanita berambut hijau toska dan dikuncir dua.
   "Miku!" balas Rin sambil melambai.
   Miku mempercepat larinya untuk menyusul Rin. Ia langsung merangkul Rin dengan manja. Hatsune Miku yang berambut hijau toska ini memang manja pada siapapun. Yah, setidaknya, teman-teman akrabnya.
   "Hari ini kau lesu sekali, ada apa?" selidik Miku.
   "Tidak ada apa-apa!" bohong Rin.
   "Ayolah. Aku bisa melihat wajahmu bahwa kau berbohong. Ayolah, Rin..." pinta Miku.
   "Aku hanya lesu karena tidak sarapan," jawab Rin, sekali lagi berbohong.
   Miku tampak tidak puas dengan jawaban Rin. Namun, sapaan Gumi mengagetkan mereka. "Hai Miku!! Rin!!" sapa Gumi dengan suara khas-nya.
   "Gumi!" pekik Miku sembari menghampiri Gumi.
   Rin cuma menatap mereka sekilas, lalu berjalan menuju kelasnya. Entah kenapa, rasanya Rin menatap semua di sekolah itu dengan penuh rasa kebencian yang mendalam.
   "Kau lama sekali!" sambut Len.
   "Aku bertemu Miku tadi," ujar Rin malas.
   "Oh, Miku. Kukira kau nyasar." Len nyengir.
   Rin tersenyum tidak tulus. Ia duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan Kagamine Len. Ia menatap seisi kelas dengan... Penuh kebencian. Kebencian?

----- Rin P o V ----

   Rasanya... Aku benci sekali melihat seisi kelas. Benci, benci, sangat benci. Tunggu, apa yang terjadi padamu, Rin? Tidak. Aku tidak boleh membenci teman-teman sekelasku. Tidak akan. Teman-temanku berkumpul dan tertawa. Rasa benci itu semakin menjadi-jadi. Ah!
   "Aku ke toilet dulu," ucapku seraya pergi ke toilet.
   "Ya," jawab Len.
  Sesampainya di toilet, aku segera membasuh wajahku dengan air. Bingung apa yang terjadi terhadap diriku.
   "Apa yang terjadi padaku..." gumamku lirih.
   Aku kembali teringat mimpiku semalam...

    Aku berjalan, menuju bangunan sekolahku yang megah. Rasanya, hari itu sudah sore hari. Kakiku terus melangkah tanpa kusadari.
    "Hei, Rin!" sapa teman-temanku dengan riang.
     Aku membalas sapaan mereka seperti biasa. Tiba-tiba, seseorang berjubah coklat menepuk bahuku. Aku terperanjat.
   Katanya, "Menurutmu, apakah teman-temanmu baik?"
   Aku menjawab dengan bingung. "Tentu. Mereka teman-teman setiaku."
   Ia tertawa. "Kau berpikir begitu? Biar kuunjukan padamu sesuatu."
   Ia mencengkram tanganku, dan tiba-tiba rasanya seperti melayang. Aku... Aku ada di ruang kelas! Aku melihat ke kalender. 21 Februari. Berarti, ini kemarin. Kulihat, teman-temanku berkumpul. Aneh. Ada Len, Miku, Gumi, Luka, dan Kaito ikut berkumpul. Aku mendekat, namun mereka seperti tidak menyadari keberadaanku.
    "Menurutku, Rin itu menyusahkan sekali," kata Miku.
    "Aku setuju. Ia sering sekali menyusahkanku di rumah," keluh Len. "Semua permintaannya harus dipenuhi."
    "Seperti anak kecil," cibir Luka.
    "Dia juga bodoh, dan pemalas," tambah Gumi.
    "Menurutku, Len, dia tidak pantas jadi kembaranmu. Tidak pantas," kata Kaito pada Len.
    Aku mendelik marah, dan langsung pergi ke luar kelas. Aku... Aku tidak sanggup mendengar jawaban Len. Aku tidak sanggup, jika Len mengatakan 'ya'. Mana mungkin... Air mata mulai berjatuhan dari mataku. Aku tak menyangka, teman-teman yang begitu kusayangi, ternyata begitu di belakangku.
    Semuanya tiba-tiba serasa gelap. "Bunuh, bunuh mereka semua. Jangan sampai ada yang tersisa." Kata-kata itu terus terngiang. Lalu aku bangun.
   Itulah mimpiku. Kurasa, itu sebabnya rasanya aku jadi benci pada teman-temanku. Tapi, apakah itu sungguhan?
   "Hei."
   Aku menoleh, dan terperanjat. Orang itu lagi, yang muncul di mimpiku semalam! Orang yang memakai jubah coklat.
  "Kau harus bunuh mereka semua," ucap orang itu.
   "Tidak akan. Mereka teman-temanku," tolakku.
  "Harus! Kau lihat sendiri kan, seperti apa mereka di belakangmu?"
   Aku mengangguk, tanpa sadar. Terbayang, ketika Len mengatakan aku menyusahkannya. Aku... Tak sanggup mendengarnya.
   "Kalau begitu, bunuh mereka, cepat," perintah orang itu, lalu menghilang.
   Aku terpaku di tempat. Sosok berambut blonde dan bermata biru serupa denganku muncul dan menepuk bahuku.
   "Hei, kau disini rupanya!" sapa Len. Aku masih diam. Len mengernyit, lalu mengguncangku. "Hei! Kau kenapa, heh?"
   Aku langsung tersadar, kemudian menggeleng. "Tidak... Tidak ada apa-apa."
   "Huh, kalau begitu, ayo kembali ke kelas," ajak Len.
   "Aku akan menyusul," ujarku. Len mengangguk, lalu pergi. Aku masih terus menatap punggung Len sambil berpikir. Apakah aku harus membunuh mereka?

#Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar