Senin, 11 Maret 2013

Detik demi Detik Ini (3)

Apakah... Apakah Ibu mewarisi penyakit leukemia untukku?!
Rasanya, aku seperti disambar petir. Namun, segera kutepis pikiranku itu. Siapa tahu, aku hanya KELELAHAN. Siapa tahu, ini cuma KEBETULAN. Ya, siapa tahu.
"Kakak?" panggil Aleyna, membuyarkan lamunanku.
"Ah, iya, Leyna?" tanyaku.
"Kakak memikirkan apa?" tanya Aleyna.
Aku menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, Kakak tidak memikirkan apa-apa."
Aku tak mau memberitahu Aleyna apa yang kupikirkan. Jangan lakukan hal bodoh, Allison! Jangan buat ia tertekan. Biarlah ia bahagia.
"Kak, kita pulang, yuk," ajak Aleyna.
Aku mengangguk. Dan, Aleyna lalu mendorong perlahan kursi rodaku menuju rumah Paman dan Bibiku.
***
Begitu sampai, Aleyna langsung masuk kamar dan tidur. Mungkin ia kelelahan mendorong kursi rodaku. Aku menghela napas. Kututup pintu kamar, lalu ku berjalan mengambil serbet dan pembersih kaca. Kulap kaca-kaca di rumah itu. Setidaknya, ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan kursi rodaku.
"Eh, Vi, akhirnya dia bantu-bantu juga."
Aku menoleh. Anak Paman dan Bibi, Acha dan Vivi berdiri tak jauh dariku sambil tersenyum mengejek. Aku hanya berusaha tersenyum.
"Kasihan banget ya, nasibnya. Udah ditinggal orang tua, adik, jadi lumpuh, adiknya gila lagi," komentar Vivi pedas.
Aku langsung naik pitam mendengar adikku dibilang gila. "Aleyna tidak gila! Jika dia gila, tak mungkin bisa mendorong kursi roda!" jeritku marah.
"Oh ya? Kalian disini menyusahkan saja. Kalian juga bodoh. Enggak sekolah. Palingan nanti jadi gelandangan," ejek Acha sambil tertawa mengejek.
"Kalian boleh bilang apa saja ke aku, tapi jangan ke adikku," ucapku menahan amarah. Kalau aku tidak ingat tinggal di rumah mereka, pasti sudah kulemparkan lap dan cairan pembersih ini pada mereka.
"Sudahlah, Cha. Kita tinggalkan saja dia. Mungkin, ia jadi gila kayak adiknya, hahaha!" tawa Vivi sembari menjauh bersama Acha.
Tanpa terasa, air mataku mengalir dari mata kiriku. Ah, jangan. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat, untuk Aleyna. Satu-satunya yang aku punya. Aku meneruskan mengelap kaca. Tes! Darah kembali mengalir dari hidungku.
Aku cepat-cepat menutup hidungku dengan sapu tanganku. "Ya Allah... Sebenarnya aku ini kenapa, sih," ucapku lirih.
Tanpa sengaja, aku melihat... Lebam di tanganku. Aku terpaku, kaget.
"Kakak?"
Aku menoleh. Aleyna, berdiri di belakang. "Ya, Aleyna?"
"Tangan Kakak kenapa?" tanya Aleyna heran.
"Terbentur tadi," jawabku berbohong.
"Kakak bener enggak apa-apa, kan?"
"Enggak. Kakak enggak apa-apa, kok." Aku meyakinkan Aleyna, walau hatiku terasa sangat sedih. Sedih membayangkan kalau aku harus pergi meninggalkan Aleyna. Aku menepis pikiranku. Aleyna mendekat, ia tiba-tiba terjatuh ke pelukanku. "A... Leyna?"
Aku panik. Aleyna tak kunjung bangun. Ia pingsan. Segera kubawa Aleyna ke kamar dan kubaringkan ia di kasur. Pikiranku kacau. Apa yang terjadi pada Aleyna?
Aku memegang tangannya, berusaha merasakan denyut nadinya. Sangat kencang dan cepat. Wajahnya pucat dan berkeringat. Apa dia kelelahan?
"Aleyna..." bisikku sedih.
Ya Allah, semoga ia baik-baik saja, Ya Allah...

#Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar