"Saisho kara kimi o suki de irarete yokatta" nante
Sora ni utaunda
Tsumekonda yume o uchiageru basho
Sagashimete kono machi kara deta
Furueru chakushin dengen o kitta
Moedasu doukasen daremo tomorarenai
Sekai no owari ga ima otozureta toshitara
Zenbu hoppotte futari eien ni issho nanoni ne
Like a Fire Flower
Boku ga kiechawanai you ni
Hinoko chirase yume uchiagare
"Saisho kara kimi o suki ni naranakya yokatta" nante uso made tsuite
AH!
Narenai keshiki
Fushizen na egao
Hanayakana matsuri to wa chigatteta
Kurikaesu rusuden "Ganbare" no koe
Namida de doukasen kiechaisou dayo
Uchuu no hajimari ga ano kuchidzuke datoshitara
Hoshizora wa futari koboshita kiseki no ato
Like a Fire Flower
Kimi ga mitsuke yasui youni
Raimei no gotoku
Yume todorokase
"Saisho kara kimi o suki ni naranakya yokatta" nante
Barenterun darou na
AH!
Umare mo sodachi mo
BARABARA na bokura
Sugata mo katachi mo
Sorezore na bokura
Otoko mo onna mo
Chiguhagu na bokura
Soredemo kokoro o hitotsu ni dekitanara
Jinsei no tochuu ga senkouhanabi datoshitara
Isshun de mo futari terasu himawari no you ni
Like a Fire Flower
Itsuka yozora ni tairin o
Sakasu sono toki made matte kure
"Saisho kara kimi o suki de irarete yokatta" nante
Sora ni utaunda
Jumat, 14 Juni 2013
Hatsune Miku - SpiCa - Lyrics
Romaji Lyrics
Kimi to nagameteta
Hoshi wo atsumeta mado ni
Utsushiteta
Mata, yubiorikazoeta
Toki wo kasaneta yoru ni
Toikaketa
Toki wo tometa
Suki da yo to ieba, hagurakashita
Kigatsukanai furi wa
Mou yamete
Tonari ni iru toki
Watashi no kidou wa itsumo
Shuukyokusei
Tremolo mitai ni
Namiutsu shikou no kakudo
Tsukamenai, kimi wo oeba
Nanika wo ushinatte shimai sou na
Omoi ukabe, fune wo dasu
Dakishimete, deawanakereba, koko
Uketomete, Denebola wo, tobikoe yuku wa
Wagamama na saisa, kimi no youda ne
Oikakete, ukabu panorama
Gosen no ue de, nagareboshi
Ima utau kara, terashite yo ne, spica
Waratte itai yo, hitori wa iya da yo
Kotae ga kikitai, kowakute kikenai
Yoru wo, ikutsumo, sugoshite
Mirai he, tsunagu no
Matataku hoshi wo yoke, sagashiteta
Shinwa wa, dare no mikata na no
Tameiki de, ochikonde ita, gogo
Omou dake, kimi no na wo hitori tsubuyakuwa
Asahaka na ai jya,todokanai yo ne
Aitakute, piano kanadeta, oto
Kurushikute, afuredasu
Jyoujyou, kimi ni todoke
Dakishimete, deawanakereba, koko
Uketomete, Denebola wo, tobikoe yuku wa
Wagamama na saisa, kimi no youda ne
Oikakete, ukabu panorama
Gosen no ue de, nagareboshi
Ima utau kara, terashite yo ne, spica
Kimi to nagameteta
Hoshi wo atsumeta mado ni
Utsushiteta
Mata, yubiorikazoeta
Toki wo kasaneta yoru ni
Toikaketa
Toki wo tometa
Suki da yo to ieba, hagurakashita
Kigatsukanai furi wa
Mou yamete
Tonari ni iru toki
Watashi no kidou wa itsumo
Shuukyokusei
Tremolo mitai ni
Namiutsu shikou no kakudo
Tsukamenai, kimi wo oeba
Nanika wo ushinatte shimai sou na
Omoi ukabe, fune wo dasu
Dakishimete, deawanakereba, koko
Uketomete, Denebola wo, tobikoe yuku wa
Wagamama na saisa, kimi no youda ne
Oikakete, ukabu panorama
Gosen no ue de, nagareboshi
Ima utau kara, terashite yo ne, spica
Waratte itai yo, hitori wa iya da yo
Kotae ga kikitai, kowakute kikenai
Yoru wo, ikutsumo, sugoshite
Mirai he, tsunagu no
Matataku hoshi wo yoke, sagashiteta
Shinwa wa, dare no mikata na no
Tameiki de, ochikonde ita, gogo
Omou dake, kimi no na wo hitori tsubuyakuwa
Asahaka na ai jya,todokanai yo ne
Aitakute, piano kanadeta, oto
Kurushikute, afuredasu
Jyoujyou, kimi ni todoke
Dakishimete, deawanakereba, koko
Uketomete, Denebola wo, tobikoe yuku wa
Wagamama na saisa, kimi no youda ne
Oikakete, ukabu panorama
Gosen no ue de, nagareboshi
Ima utau kara, terashite yo ne, spica
Senin, 10 Juni 2013
Hatsune Miku - Rolling Girl Lyrics
Ronrii gaaru wa itsumademo todokanai yume mite
Sawagu atama no naka o kakimawashite, kakimawashite.
“Mondai nai.” to tsubuyaite, kotoba wa ushiwareta? Mou shippai, mou shippai. Machigai sagashi ni owareba, mata, mawaru no!
Mou ikkai, mou ikkai. “Watashi wa kyou mo korogarimasu.” to, Shoujo wa iu shoujo wa iu Kotoba ni imi o kanadenagara!
“Mou ii kai?” “Mada desu yo, madamada saki wa mienai node. Iki o tomeru no, ima.” Roorin gaaru no nare no hate todokanai, mukou no iro Kasanaru koe to koe o mazeawasete, mazeawasete.
“Mondai nai.” to tsubuyaita, kotoba wa ushiwareta? Dou natta tte iin datte sa, Machigai datte okoshichao to sasou, sakamichi.
Mou ikkai, mou ikkai. Watashi o douka korogashite to Shoujo wa iu shoujo wa iu Mukuchi ni imi o kanadenagara!
“Mou ii kai?” “Mou sukoshi, mou sugu nanika mieru darou to. Iki o tomeru no, ima.”
Mou ikkai, mou ikkai. “Watashi wa kyou mo korogarimasu.” to, Shoujo wa iu shoujo wa iu Kotoba ni emi o kanadenagara!
“Mou ii kai? Mou ii yo. Sorosoro kimi mo tsukaretarou, ne.” Iki o yameru no, ima.
Sawagu atama no naka o kakimawashite, kakimawashite.
“Mondai nai.” to tsubuyaite, kotoba wa ushiwareta? Mou shippai, mou shippai. Machigai sagashi ni owareba, mata, mawaru no!
Mou ikkai, mou ikkai. “Watashi wa kyou mo korogarimasu.” to, Shoujo wa iu shoujo wa iu Kotoba ni imi o kanadenagara!
“Mou ii kai?” “Mada desu yo, madamada saki wa mienai node. Iki o tomeru no, ima.” Roorin gaaru no nare no hate todokanai, mukou no iro Kasanaru koe to koe o mazeawasete, mazeawasete.
“Mondai nai.” to tsubuyaita, kotoba wa ushiwareta? Dou natta tte iin datte sa, Machigai datte okoshichao to sasou, sakamichi.
Mou ikkai, mou ikkai. Watashi o douka korogashite to Shoujo wa iu shoujo wa iu Mukuchi ni imi o kanadenagara!
“Mou ii kai?” “Mou sukoshi, mou sugu nanika mieru darou to. Iki o tomeru no, ima.”
Mou ikkai, mou ikkai. “Watashi wa kyou mo korogarimasu.” to, Shoujo wa iu shoujo wa iu Kotoba ni emi o kanadenagara!
“Mou ii kai? Mou ii yo. Sorosoro kimi mo tsukaretarou, ne.” Iki o yameru no, ima.
Sabtu, 08 Juni 2013
You
Di hari ini
Aku akan berpisah denganmu
Aku akan berpisah dengan kalian semua
Aku akan
Tidak akan lagi, berada di satu sekolah
Satu kelas
Satu persatuan
Aku berpikir
Setidaknya aku masih bisa bertemu dengan beberapa dari kalian
Membuat janji
Tapi denganmu?
Itu yang ku takutkan
Aku takut
Tak bisa lagi bertemu denganmu
Aku takut
Tak bisa lagi melihatmu
Aku takut
Tak bisa bahagia bersamamu
Aku takut
Tapi, aku ingin mengucapkan terima kasih
Terima kasih
Untuk segala kenangan yang kau berikan padaku
Terima kasih
Untuk senyumanmu
Terima kasih
Kau mau bicara padaku
Terima kasih
Telah hadir dalam hidupku
Melengkapi beberapa bagian dalam hidupku
Bagian yang takkan pernah kulupa
Karena ada kamu
Aku juga ingin
Mengucapkan permintaan maaf
Maaf
Atas segala kesalahanku padamu
Maaf
Telah membuatmu marah
Maaf
Tak sengaja mengganggumu
Maaf
Telah hadir dalam hidupmu
Hadir dalam bagian buruk dalam hidupmu
Maafkan aku
Jika kehadiranku dalam hidupmu membuatmu risih dan terganggu
Tapi, tenang saja
Aku akan segera menghilang dari hidupmu
Kau tak akan terganggu lagi karena mengingatmu
Tapi bolehkah
Suatu saat
Aku melihatmu dari kejauhan?
Melihatmu tertawa
Melihatmu tersenyum
Melihatmu bahagia
Tanpa kehadiran diriku
Tanpa pengganggu tak berguna seperti diriku
Aku tak pernah berharap
Aku mendapat tempat istimewa di hatimu
Tapi
Jangan pernah lupakan
Aku akan selalu mencintaimu
Aku akan selalu menunggumu
Aku akan selalu menerimamu
Untuk berada di sisiku
Yah, walau itu hanya khayalku
Di hari ini
Aku menyadari sebuah kesalahan
Semua khayalku sia-sia
Semua khayalku takkan pernah terwujud
Aku tahu, aku bodoh
Mengharapkan sesuatu yang tak akan terjadi
Walau begitu, aku senang
Bisa melihatmu tersenyum dan tertawa bersamaku
Walaupun itu hanya khayalku
Semua yang pernah ku lalui bersamamu
Semua kenanganku bersamamu
Tak akan ku lupakan
Saat kau menjahili diriku
Saat kau tersenyum kepadaku
Saat kau berbicara kepadaku
Saat kau memandangku dengan pandangan anehmu
Itu kenangan yang begitu indah
Tak akan kulupakan
Jika Tuhan mengizinkan
Izinkanlah aku bertemu denganmu di masa depan nanti
Izinkanlah aku bisa bicara lagi denganmu
Izinkanlah semua khayalku menjadi kenyataan
Tapi...
Ini semua hanya impianku
Yah, sekedar impian
Aku hanya bisa berharap, impianku terkabul
Aku mengakui
Cinta pada pandangan pertama itu benar adanya
Dulu
Saat pertama kali aku bertemu denganmu
Bertatapan mata denganmu
Saat aku masuk ke kelas baruku dengan bingung
Dan kau menyambutku dengan tatapan matamu
Bola matamu yang indah memandangku
Bertanya-tanya
"Siapa dia?"
Aku hanya bisa menunduk saat itu
Saat itu
Aku merasa lidahku kelu
Dan wajahku memanas
Lambat laun aku menyadari
Aku telah jatuh cinta padamu
Cinta yang menyakitkan
Karena ini cinta sepihak
Banyak yang mengatakan
Kau itu playboy
Kau itu jelek
Kau itu penyakitan
Kau itu aneh
Apa salahnya?
Aku tak peduli
Apapun kau
Hal apapun darimu
Aku tak peduli
Aku akan tetap mencintaimu
Banyak yang tanya kenapa
Aku pun tak mengerti
Kenapa aku mencintaimu
Bukan karena fisikmu
Bukan karena sikapmu
Tapi karena takdir
Tersenyumlah kau di sana
Lupakanlah aku
Jangan mengingatku lagi
Selamat tinggal
Aku mencintaimu
Semoga kau bahagia tanpa diriku
Aku akan berpisah denganmu
Aku akan berpisah dengan kalian semua
Aku akan
Tidak akan lagi, berada di satu sekolah
Satu kelas
Satu persatuan
Aku berpikir
Setidaknya aku masih bisa bertemu dengan beberapa dari kalian
Membuat janji
Tapi denganmu?
Itu yang ku takutkan
Aku takut
Tak bisa lagi bertemu denganmu
Aku takut
Tak bisa lagi melihatmu
Aku takut
Tak bisa bahagia bersamamu
Aku takut
Tapi, aku ingin mengucapkan terima kasih
Terima kasih
Untuk segala kenangan yang kau berikan padaku
Terima kasih
Untuk senyumanmu
Terima kasih
Kau mau bicara padaku
Terima kasih
Telah hadir dalam hidupku
Melengkapi beberapa bagian dalam hidupku
Bagian yang takkan pernah kulupa
Karena ada kamu
Aku juga ingin
Mengucapkan permintaan maaf
Maaf
Atas segala kesalahanku padamu
Maaf
Telah membuatmu marah
Maaf
Tak sengaja mengganggumu
Maaf
Telah hadir dalam hidupmu
Hadir dalam bagian buruk dalam hidupmu
Maafkan aku
Jika kehadiranku dalam hidupmu membuatmu risih dan terganggu
Tapi, tenang saja
Aku akan segera menghilang dari hidupmu
Kau tak akan terganggu lagi karena mengingatmu
Tapi bolehkah
Suatu saat
Aku melihatmu dari kejauhan?
Melihatmu tertawa
Melihatmu tersenyum
Melihatmu bahagia
Tanpa kehadiran diriku
Tanpa pengganggu tak berguna seperti diriku
Aku tak pernah berharap
Aku mendapat tempat istimewa di hatimu
Tapi
Jangan pernah lupakan
Aku akan selalu mencintaimu
Aku akan selalu menunggumu
Aku akan selalu menerimamu
Untuk berada di sisiku
Yah, walau itu hanya khayalku
Di hari ini
Aku menyadari sebuah kesalahan
Semua khayalku sia-sia
Semua khayalku takkan pernah terwujud
Aku tahu, aku bodoh
Mengharapkan sesuatu yang tak akan terjadi
Walau begitu, aku senang
Bisa melihatmu tersenyum dan tertawa bersamaku
Walaupun itu hanya khayalku
Semua yang pernah ku lalui bersamamu
Semua kenanganku bersamamu
Tak akan ku lupakan
Saat kau menjahili diriku
Saat kau tersenyum kepadaku
Saat kau berbicara kepadaku
Saat kau memandangku dengan pandangan anehmu
Itu kenangan yang begitu indah
Tak akan kulupakan
Jika Tuhan mengizinkan
Izinkanlah aku bertemu denganmu di masa depan nanti
Izinkanlah aku bisa bicara lagi denganmu
Izinkanlah semua khayalku menjadi kenyataan
Tapi...
Ini semua hanya impianku
Yah, sekedar impian
Aku hanya bisa berharap, impianku terkabul
Aku mengakui
Cinta pada pandangan pertama itu benar adanya
Dulu
Saat pertama kali aku bertemu denganmu
Bertatapan mata denganmu
Saat aku masuk ke kelas baruku dengan bingung
Dan kau menyambutku dengan tatapan matamu
Bola matamu yang indah memandangku
Bertanya-tanya
"Siapa dia?"
Aku hanya bisa menunduk saat itu
Saat itu
Aku merasa lidahku kelu
Dan wajahku memanas
Lambat laun aku menyadari
Aku telah jatuh cinta padamu
Cinta yang menyakitkan
Karena ini cinta sepihak
Banyak yang mengatakan
Kau itu playboy
Kau itu jelek
Kau itu penyakitan
Kau itu aneh
Apa salahnya?
Aku tak peduli
Apapun kau
Hal apapun darimu
Aku tak peduli
Aku akan tetap mencintaimu
Banyak yang tanya kenapa
Aku pun tak mengerti
Kenapa aku mencintaimu
Bukan karena fisikmu
Bukan karena sikapmu
Tapi karena takdir
Tersenyumlah kau di sana
Lupakanlah aku
Jangan mengingatku lagi
Selamat tinggal
Aku mencintaimu
Semoga kau bahagia tanpa diriku
Rabu, 05 Juni 2013
Jumpa Untuk Berpisah
Walaupun terlalu indah bila di lukiskan
Dengan kata, untukku jadikan sebuah syair
Tetapi terlalu pahit untuk di kenang
Kenanganku, yang pernah kualami bersamamu
Reff : Takkan kulupakan, SDN Pondok Kopi 01 Pagi
Kini kupergi, meraih cita-cita di hati... Ooo....
Doakan kami jadi manusia yang berguna
Mohon maafkan, khilaf dan salah yang kami lakukan
Khilaf dan salah yang kami lakukan..
Dengan kata, untukku jadikan sebuah syair
Tetapi terlalu pahit untuk di kenang
Kenanganku, yang pernah kualami bersamamu
Reff : Takkan kulupakan, SDN Pondok Kopi 01 Pagi
Kini kupergi, meraih cita-cita di hati... Ooo....
Doakan kami jadi manusia yang berguna
Mohon maafkan, khilaf dan salah yang kami lakukan
Khilaf dan salah yang kami lakukan..
Sabtu, 01 Juni 2013
A Promise (1)
A Promise by Kusanagi Mikan
Vocaloid by Yamaha and Crypton FM
Warning : Aneh, typo, gaje, de-el-el
Chapter 1
- Normal PoV -
Seorang lelaki berambut honey blonde sedang termenung sendirian di kamarnya. Matanya yang aquamarine menerawang. Menatap langit yang biru di hiasi awan putih.
Tok..Tok..Tok..
"Tuan Muda, sarapan sudah siap." Seorang maid dengan name tag bernama 'Yowane Haku' membuka pintu kamar lelaki itu. Agak tidak sopan memang, namun lelaki yang bernama Len itu tak akan pernah menjawab ketika orang mengetuk pintu kamarnya yang tak pernah di kunci itu.
Haku menaruh sarapan Len di meja yang ada di samping Len. Len bersikap acuh tak acuh, masih menatap langit. Wajahnya pucat, sangat berbeda dengan foto yang tergantung di dinding kamarnya. Di foto itu, Len terlihat begitu cerah dan berseri-seri. Sekarang, Len tampak seperti mayat hidup.
"Saya permisi, Tuan Muda," pamit Haku sopan. Lagi, Len tidak menjawab. Haku hanya bisa menghela napas pelan, kemudian pergi dan menutup pintu kamar Len.
Di kamar Len, kini hanya dia sendiri. Hanya sendiri. Seulas senyum pahit terukir di wajah Len.
"Tenanglah, Rin. Aku akan menyusulmu. Aku akan menepati janjiku padamu yang kubuat setahun lalu."
Flashback
Len berlari-lari kecil ke bukit dekat sekolahnya. Seharusnya sekarang masih jam pelajaran olahraga, namun Len berhasil kabur. Alasannya bukan karena ia bosan. Tapi karena Len mendengar suara nyanyian seorang gadis. Entah kenapa, nyanyian itu sangat menarik perhatiannya.
"Ah..." gumam Len begitu melihat seorang gadis berambut honey blonde sepertinya sedang menyanyi. Suaranya indah, namun terdengar sedih. Gadis itu sepertinya tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia terus saja menyanyi.
Selesai menyanyikan sebuah lagu, Len langsung bertepuk tangan kagum. Suara gadis itu seperti menyihir dirinya.
"Suaramu bagus!" puji Len tulus. Jarang-jarang Len memuji orang. Len termasuk orang yang dingin, walau begitu fangirl-nya banyak.
Gadis itu tersadar dan menatap Len. Rona merah menghiasi wajahnya. Sepertinya ia malu ada orang yang memergokinya sedang menyanyi.
"Terima kasih," ucapnya malu-malu. "Uhm... Kamu murid sekolah, kan? Kenapa di jam seperti ini ada di bukit?" tanya gadis itu.
"Aku bolos karena penasaran mendengar nyanyianmu," jawab Len, membuat gadis itu semakin merona.
"Ah... Tapi itu tidak baik.. Ng, siapa namamu?"
"Len. Kau sendiri?" balas Len.
"Rin. Mikagane Rin," jawab gadis itu yang ternyata namanya Rin.
Len berjalan mendekati Rin, memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah. 'Sepertinya seumuran denganku,' pikir Len. 'Kenapa dia tidak sekolah?'
"Kau tidak sekolah?" tanya Len.
"Aku ingin," jawab Rin. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. "Tapi aku tidak bisa."
Len mengernyit heran. Ia ingin bertanya lebih lanjut pada Rin, namun merasa tak enak. Masa baru kenal sudah banyak tanya, coba?
Rin berbaring di rumput-rumput bukit yang basah. Dia tidak peduli gaun putihnya ternodai tanah.
"Lihatlah langit ini, Len," ucapnya. "Begitu indah, luas... Membuat tentram saat melihatnya."
Len mengernyit dan menatap langit. Tidak ada yang istimewa bagi Len. Hanya sebuah karpet biru di hiasi awan-awan putih. Bagi Len, itu biasa saja. Kenapa gadis ini mengatakan melihatnya membuat tentram?
"Aku tak mengerti maksudmu," komentar Len.
"Makanya, berbaringlah, Len!" Rin menarik Len hingga lelaki itu terjatuh di rerumputan.
"Ugh, seragamku kotor nanti!" keluh Len, berusaha untuk bangun.
"Jangan, katanya kau tidak mengerti indahnya langit? Makanya ayo berbaring," bujuk Rin.
Len mengalah. Ia berbaring dan menatap langit. Langit yang luas, berwarna biru indah di hiasi awan putih. Walau tidak selamanya berwarna biru.
"Kau tahu, kenapa aku begitu suka langit, Len?" tanya Rin.
Len melirik Rin. "Tidak. Memangnya kenapa?"
Rin tersenyum riang. "Karena, aku akan tinggal di sana nanti!"
Len mengernyit heran. Ia sama sekali tak mengerti dengan perkataan Rin. Rin menatap Len yang memasang raut wajah tidak mengerti.
"Uhh, Len ini masa tidak mengerti, sih?" gerutu Rin.
"Nggak, soalnya kata-katamu aneh!" jawab Len.
"Huu! Menyebalkan! Sudah sana, balik ke sekolah!" usir Rin.
"Nggak usah di usir aku juga balik!" gerutu Len pelan, kemudian berjalan ke sekolahnya.
Len menghela napas. Dia tidak pernah bertemu gadis seunik Rin. Baru pertama bertemu, tiba-tiba saja sudah akrab. Huft...
Tapi, Len merasa senang. Senang, sangat senang. Sikap Rin yang kadang aneh, dan kata-katanya yang sulit di mengerti. Wajah sedih yang kadang berubah menjadi wajah riang.
"KAGAMINE LEN!"
Len tersentak dari lamunannya. Ternyata, ia sudah sampai sekolah, toh. Dan sekarang, guru olahraga, Leon-sensei meneriakinya karena meninggalkan pelajaran olahraga tanpa izin. Walau nggak sepenuhnya, sih.
"Kau kemana saja tadi! Pergi meninggalkan pelajaran tanpa bilang-bilang!" omel Leon-sensei.
"Gomen, Sensei. Tadi aku, cuma cari angin segar aja," Len cengar-cengir. Dasar, lagi di omelin bisa-bisanya cengar-cengir.
"Len jangan di hukum, Sensei!"
"Sensei, Len nggak salah!"
"Sensei, bebasin Len!"
Teriakan-teriakan fangirl Len yang meminta Len tidak usah di hukum, membuat Leon-sensei pusing. 'Susahnya marahin murid yang punya segudang fangirl,' batin Leon-sensei.
"Ya sudah! Untuk kali ini, kamu nggak di hukum, asal jangan di ulangi lagi! Sekarang, kau kembali ke barisan!" perintah Leon-sensei.
"Terima kasih, Sensei," senyum Len, membuat fangirl-nya berteriak-teriak histeris.
Len kembali ke barisannya. Piko, sahabat Len, berdecak-decak.
"Kau kemana saja, Len?" tanya Piko.
"Ke bukit," jawab Len.
"Kau membuatku, susah, tahu!" omel Piko. "Selama kau pergi, fangirl-fangirlmu terus menanyaiku karena aku dekat denganmu. 'Dimana Len?' Mereka menanyakan itu berulang kali! Kubilang aku tidak tahu, dan mereka terus menanyaiku! Bahkan ada yang bilang aku sahabat yang tidak baik! Untuk saja Miki membelaku tadi," celoteh Piko.
Len nyengir. "Gomen, Piko. Ahaha~ Harusnya aku pergi lebih lama lagi biar kau di siksa oleh fangirl-fangirlku~"
"Kau sahabat yang baik, Len..." gerutu Piko pelan.
Pelajaran olahraga selesai. Sebentar? Tentu, tadi kan Len bolos. Walau nggak bolos sepenuhnya, sih. Semua murid kelas 3 (SMP) yang tadi berolahraga segera berganti baju di ruang ganti.
~Skip sampe pulang sekolah, Mikan males ngetik *digampar~
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid di kelas 3-1 (kelasnya Len) segera membereskan barang mereka dan cepat-cepat pulang. Namun, kali ini tidak dengan Len. Ia ingin pergi ke bukit lagi. Siapa tahu saja, Rin masih ada di bukit. Yup, Len ingin bertemu lagi dengan Rin.
"Hei Len, maaf ya hari ini aku nggak bisa pulang bareng," sesal Piko. Di belakang Piko, ada Miki, pacarnya.
"Tidak apa-apa. Aku nggak mau mengganggu kencan kalian," Len nyengir, membuat Piko dan Miki blushing dengan kata-kata Len. "Lagipula... Aku nggak mau langsung pulang ke rumah."
"Memang kau mau kemana dulu?" tanya Piko.
"Himitsu~" jawab Len.
"Ugh, ya sudahlah, terserah kau saja. Aku dan Miki pulang dulu. Jaa~" pamit Piko. Ia menggandeng lengan Miki kemudian berjalan keluar kelas.
Len hanya tersenyum saja. Lelaki berambut honey blonde itu langsung berlari keluar kelas. Tujuannya, tentu bukit dekat sekolahnya, Voca High School.
"Hh... Hh... Sampai juga," Len terengah-engah begitu sampai bukit dekat sekolahnya. Tak jauh, memang. Tapi Len berlari, sehingga ia merasa lelah.
"Kau lagi?"
Len menoleh. Sesosok gadis berambut honey blonde sedang duduk di rerumputan dan menatapnya.
"Tentu! Kau tidak senang?" jawab Len.
"Hum... Lumayan."
JLEB! Jawaban Rin begitu menusuk Len.
"Hehe," Rin terkekeh. "Aku cuma bercanda."
Len bersungut-sungut kesal, namun ia beranjak duduk di samping Rin. "Rumahmu di sini, ya?"
"Enak saja!"
"Terus, kenapa kau di sini berjam-jam?" tuntut Len. "Dari pelajaran olahraga saat aku kabur tadi sampai sekarang, kan, sudah lama sekali."
Rin menarik dasi seragam Len, sehingga lelaki itu nyaris terjatuh. Wajah Len merona, karena jarak wajahnya dengan Rin dekat sekali.
"Kau mau tahu kenapa, Len?" Rin menatap Len dengan mata aquamarine-nya.
"I-Iya! Cepat katakan!" kata Len gugup.
"Itu karena, aku sedang kabur!" jawab Rin dan melepaskan dasi Len.
"Kabur?" ulang Len heran.
"Yup! Aku bosan di rumah. Aku ingin... Melihat dunia luar! Bebas, menari di atas rerumputan, menyenandungkan melodi-melodi indah sebagai penyejuk hati. Dan aku ingin punya teman! Bukan cuma kakak-kakakku yang overprotective itu! Dan sepertinya, hari ini aku beruntung, Len! Aku menemukan teman, yaitu kau! Dan aku menemukan tempat bagus, di bukit ini! Rerumputan, dan mudah melihat langit! Seperti yang selama ini aku inginkan!" celoteh Rin panjang lebar.
Len menatap Rin dengan tidak mengerti. Rin berwajah pucat, seperti mayat hidup. Namun senyum selalu terukir di wajahnya.
"Len, sekarang sudah jam berapa?" tanya Rin.
"Uhm.." Len melirik jam tangannya. "Jam dua siang."
"Oh!" pekik Rin. "Aku harus pulang sekarang! Rinto-nii pasti sudah khawatir sekali! Len, bisa antarkan aku pulang?" rajuk Rin.
"Eh? Pulang sendiri, dong!" tolak Len.
"Tidak mau," Rin menggeleng. "Len kan kesini, padahal bisa langsung pulang ke rumah. Nah, itu artinya Len mau mengantarku pulang!"
Len merengut kesal. "Memangnya kau tidak bisa pulang sendiri?"
"Rumahku jauh, dan aku lelah! Aku bisa pingsan di tengah jalan, apalagi mataharinya terik sekali!"
"Itu kan bukan masalahku," Len melengos, beranjak untuk pulang. Namun, sebuah tangan dingin mencengkram pergelangan tangannya.
"Nanti kalau aku pingsan, aku akan bilang ke Rinto-nii kalau Len yang salah!" ancam Rin.
'Gadis ini seenaknya saja,' batin Len kesal. Namun akhirnya ia mengangguk juga. Len penasaran dengan Rin. Rin bersorak gembira.
"Yeay! Arigatou, Len!" sorak Rin.
"Iya iya, ayo bangun, di mana rumahmu?" Len membantu Rin bangun. Tubuh Rin sangat ringan, juga dingin. Aneh. Itulah yang terpikir di pikiran Len saat itu.
"Hum... Di Mansion Mikagane! Aku lupa jalannya, tapi kata Rinto-nii itu alamatnya. Hanya itu yang ku ingat," jawab Rin.
Len tersentak. Ia baru teringat Mikagane adalah keluarga bangsawan. Mansion Mikagane sendiri, Len tahu letaknya di mana. Cukup jauh dari tempat itu.
"Ya aku tahu di mana Mansion Mikagane. Ayo jalan!" ajak Len.
Rin diam di tempat, menggeleng, kemudian ia jatuh terduduk. "Nggak bisa. Aku nggak kuat berjalan."
"Terus tadi kamu ke sini gimana caranya?!" tanya Len bingung.
"Tadi aku minta di antar kakak-kakak yang mau sekolah di SMA!" jawab Rin riang.
"Dasar kau ini. Ya sudah jadinya bagaimana nih?" Len bingung sendiri.
"Tentu saja gendong aku!" cetus Rin.
"APA?! AKU TIDAK MAU!" tolak Len.
Rin merengut kesal. "Kalau gitu, gimana caranya aku pulang?" protes Rin.
"Huh, kau ini bikin repot saja! Ya sudah, kugendong!" putus Len. Ia menggendong Rin di punggungnya, lalu mulai berjalan menapaki jalan.
Sepanjang jalan, Rin terus berceloteh dan bertanya ini itu pada Len. Len sendiri kadang ikut bertanya pada Rin. Tak terasa, mereka telah sampai di Mansion Mikagane.
"Nona Rin!" seru beberapa maid dan butler yang ada di halaman atau di depan gerbang.
Rin melambaikan tangan dan tersenyum. "Len, antar aku sampai dalam!"
"Enak saja memerintahku!" gerutu Len. Namun, dia turuti juga permintaan Rin untuk membawanya sampai masuk ke dalam. Maid-maid dan butler-butler menghampiri Rin dan menanyakan apa keadaannya baik-baik saja.
Seorang lelaki berambut seperti Rin dan memakai jepit putih berlari dari dalam rumah dan menghampiri Rin juga Len.
"Rin! Kau habis dari mana saja?! Dan siapa lelaki ini?!" tanya lelaki itu.
"Rinto-nii, Rin habis jalan-jalan ke bukit dekat sekolah. Terus, ketemu sama Len! Len baik deh, Rinto-nii!" cerita Rin.
"Uh, kau ini! Membuat panik saja! Len, terima kasih ya, sudah mengantarkan Rin sampai ke sini. Dan maaf jika Rin merepotkan," ucap Rinto.
"Iya, aku senang kok bertemu Rin," Len tersenyum.
Rin turun dari gendongan Len. "Pokoknya, besok Rin mau ke sekolah lagi!" tekad Rin. "Rin mau ketemu Len!"
"Tidak boleh, Rin," larang Rinto lembut. "Nantinya kau kecapekan."
Rin cemberut. "Tapi Rin mau melihat sekolah! Rin juga mau ketemu Len! Rin bosan tiap hari lihat Rinto-nii terus!"
Rinto langsung sweatdrop. 'Teganya adikku berkata begitu,' ratap Rinto di dalam hati.
"Rin, nanti kalau sakitmu kambuh lagi..."
"Biar! Biarin sakitnya kambuh lagi! Yang penting Rin bisa ketemu Len! Rin juga ingin punya teman..."
Rinto terdiam. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Uhm.. Baiklah. Tapi besok kau harus di temani Lily," Rinto menyebutkan nama salah satu maid.
Rin mengangguk setuju. "Tapi Rinto-nii harus janji!"
"Janji," Rinto mengangguk.
"Uhm, aku pulang dulu, ya," pamit Len.
"Ya, hati-hati. Mau di antar salah satu maid?" tawar Rinto.
Len menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Tidak perlu."
"Ya sudah. Hati-hati," pesan Rinto.
"Besok aku akan berkunjung ke sekolah Len!" kata Rin riang.
"Kutunggu!" Len berlalu sembari melambaikan tangannya. Lelaki itu kemudian berjalan pulang ke rumahnya, sambil terus tersenyum.
Dan tanpa sadar, pertemuan mereka berdua akan segera berakhir
Sungguh singkat dan tidak adil
Kamis, 16 Mei 2013
Pict
Karena hari ini Mikan nggak ada kerjaan, Mikan share aja deh pict pict dan lirik lagu. Di post ini pict dulu!
Segitu dulu, deh. Mikan ngunggahnya kelamaan 1 foto aja. Besok besok lagi ya, bye~
Segitu dulu, deh. Mikan ngunggahnya kelamaan 1 foto aja. Besok besok lagi ya, bye~
Langganan:
Postingan (Atom)





