Sabtu, 30 Maret 2013

Pict Vocaloid

Hatsune Miku~

Miku~

Hatsune Miku again~

Miku ^o^

Furukawa Miki~

Miki ^^

Miki~

Miku and Miki ^o^

Megpoid Gumi

Gumi ^^

Len and Rin

Kagamine Rin

Kagamine Rin

~~~""~""""~""~"~"~"~""~

Jumat, 29 Maret 2013

Sorry (Chapter 4)

Rin mulai menggeledah gudang itu, dan menemukan pakaian. Sepertinya, masih baru, entah bagaimana. Tapi Rin tidak peduli. Ia segera memakainya dan meninggalkan seragamnya begitu saja. Ia menyeringai. "Dua orang sudah kubunuh. Tunggulah, cepat atau lambat aku akan membunuh kalian," seringainya, lalu meninggalkan gudang dan mayat Neru.

- Normal PoV-

"Rin dan Neru lama sekali," celetuk Miku.
"Mungkin mereka membicarakan banyak hal," komentar Luka.
Ketika Miku akan berbicara, tiba-tiba saja Rin datang. Bajunya sudah berganti. Tadinya seragam, menjadi T-Shirt kuning yang agak kotor, dan rok hitam. Len mengernyit. Itu bukan pakaian Rin, batin Len.
"Rin! Kau datang juga!" seru Miku.
"Kok bajumu ganti, Rin?" tanya Luka heran.
Rin nyengir. "Tadi aku terpeleset ke lumpur. Dan jadinya baju seragamku kotor. Jadi, aku ke rumah dulu ganti baju. Hehe, maaf lama ya..."
Len mengernyit. "Aku tidak pernah melihat baju itu, Rin. Itu bukan bajumu, kan?"
"Enak saja! Ini bajuku, hanya saja jarang dipakai," kata Rin.
"Oh, gitu," tanggap Len singkat, masih heran dengan sikap saudari kembarnya itu.
"Ngomong-ngomong, mana Neru?" tanya Kaito yang sedari tadi diam saja.
Wajah Rin menjadi pucat. "Err, itu, itu, Neru tadi... Pulang! Yap, pulang ke rumahnya," jawab Rin sambil berusaha tersenyum.
"Yah, kenapa enggak ikutan ke cafe lagi? Malah langsung pulang," gerutu Miku.
Rin tertawa dipaksakan. "I-Iya."
"Ini orange parfait-mu, Rin. Kesukaanmu, kan?" Len menyodorkan segelas orange parfait pada Rin.
Mata Rin langsung membelalak. "Orange parfait! Kesukaanku!"
Rin, langsung melahap orange parfait itu dengan lahap. Tidak sampai lima menit! Semua tertawa melihat tingkah Rin.
"Kau ini, suka sekali orange parfait!" komentar Meiko sambil tertawa. Dia memegang... Ehm, sake. Untungnya sake beralkohol rendah, tak begitu berakibat fatal.
"Daripada kau, Meiko. Sukanya sake," balas Rin sambil mencibir.
"Eh! Panggil aku Meiko-senpai! Aku kan lebih tua darimu!" canda Meiko.
"Baik, Sen... Uwwehh, aku tak sanggup memanggilmu senpai." Kali ini Rin yang bercanda. "Senpai kok, suka minum sake."
Meiko cemberut karena disindir-sindir kesukaannya suka minum sake. Untungnya ia tak ketahuan guru. Bisa-bisa di hukum.
"Jus wortel memang enak, ya," kata Miku sambil meminum jus wortel dicampur negi. Ups, memangnya enak? Tanyakan saja pada Miku. "Aku jadi ingat Gumi, yang suka sekali wortel."
Semua jadi terdiam. Mereka tertawa-tawa, setelah sahabat mereka meninggal? Uh, rasanya bersalah sekali.
"Ah, aku merasa bersalah mengatakan begitu," ratap Miku.
"Kalau aku merasa bersalah pada Gumi. Entah apa dia sekarang, sementara kita tertawa-tawa," ujar Meiko.
"Kira-kira, keluarga Megpoid sudah tahu belum, ya?" tanya Kaito.
Semua menggeleng. Mereka diam, teringat kenangan-kenangan bersama Gumi. Namun, Rin memikirkan hal berbeda. Ketika ia membunuh Gumi. Wajah Gumi begitu ketakutan. Untungnya, Rin tidak membunuh Gumi seperti ia membunuh Neru.
Diam-diam, Rin merasa 'agak' bersalah telah membunuh Gumi. Tapi, ia teringat dengan mimpinya juga. Sebuah pikiran lain menyelanya, apakah itu betul? Memikirkannya, Rin jadi gelisah dan merasa sangat bersalah. Ia agak takut kalau dihantui Gumi atau Neru. Rin berusaha menyingkirkan pikirannya itu.
"Ehm, aku pulang dulu, ya," kata Rin memecah keheningan diantara mereka.
"Eh, oh, aku juga," kata Miku dan Luka bersamaan.
Meiko dan Kaito mengangguk. Mereka berdiri, tanda mau pulang. Rin menarik Len. "Ayo, Len."
Setelah membayar (tentulah, mau diteriakin maling?), mereka pulang ke rumah masing-masing. Selama perjalanan, Rin diam saja. Hal itu tentulah membuat Len bingung. Rin, Rin, ada apa denganmu? batin Len.

- Rin PoV-

Len memandangiku dengan sangat aneh. Apa dia heran dengan sikapku? Ah, kalau begitu, aku harus bersikap biasa saja agar dia tak curiga,pikirku.
"Ehm, Len! Nanti aku akan memasak sashimi untukmu!" kataku dengan nada riang.
"Sashimi? Bukankah masih ada pizza yang dipesan semalam?"
Ah, salah, aku malah membuatnya makin curiga. Oke, step two. "Hem, kalau begitu, nanti kita main ke rumah Miku, yuk?" ajakku.
"Boleh juga," Len mengiyakan. Aha, berhasil! sorakku dalam hati.
Makan siang begitu sepi. Len tidak bicara. Begitu pula aku. Sementara Ayah dan Ibu tentu belum pulang dari pekerjaannya.
"Rin," ucap Len pelan.
"Ya, Len?" tanyaku heran, karena nada bicara Len cukup 'aneh'.
"Mana baju seragammu?"
Glek! Hampir saja aku tersedak mendengar pertanyaan Len. Len memandangku dengan mata birunya yang tajam. Menantikan jawaban dariku. "Err... Itu..." Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, berusaha mencari jawaban.
KRIIIINGGG! Telepon tiba-tiba berbunyi. Len beranjak, lalu mengangkat telepon itu. "Ya, Kagamine disini," ucap Len.
Orang diseberang menjawab. Aku tak tahu ia bicara apa. Yang jelas, wajah Len jadi memucat dan panik. "Y-Ya, saya dan kakak saya akan segera ke sana. T-terima kasih." Len menutup telepon. Ia menatapku dengan sangat tajam.
"Rin, jawablah," ucapnya pelan. "Jawablah, kenapa ada seragam dan kartu pelajarmu di gudang yang menyimpan mayat Akita Neru yang terpotong-potong?"

#Bersambung

Kamis, 28 Maret 2013

Sorry (Chapter 3)

- Len PoV-

Aku menatap kerumunan di depanku. Pikiranku melayang pada sikap Rin tadi, yang bisa kubilang ANEH. Kenapa ia dua kali ke toilet? Dan... Hei, kenapa ia dan Gumi belum kembali? Baru saja aku akan bertanya, sosok Rin sudah ada di ambang pintu.
"Rin? Mana Gumi?" tanya Meiko.
"Gumi belum kembali?" Rin balik bertanya dengan raut wajah bingung, namun terlihat aneh di mataku.
"Bukankah kau tadi bersamanya?" Kali ini Kaito yang bertanya.
Rin menggeleng. "Tadi, aku tidak jadi ke toilet dan memutuskan ke kantin. Tapi Gumi tetap ke toilet. Kupikir ia sudah kembali."
"Gumi belum kembali," ucapku. Rin mengernyitkan dahi, heran.
"Kalau begitu, kita susul aja ke toilet," usul Miku.
"Ya sudah. Ayo, mumpung belum masuk." Kaito menyetujui.
Akhirnya, kami pun pergi ke toilet. Aku masih memandangi Rin dengan aneh. Dia tampak heran, bingung, tapi juga terlihat tenang. Dan... Mengerikan.
"Len? Ada apa memandangiku terus?" tanya Rin.
"Eh? Tidak, tidak apa-apa," tukasku. Rin hanya tersenyum seperti biasa. Akhirnya, kami tiba di toilet anak perempuan.
"Gumi tadi ke toilet yang mana?" tanya Luka.
"Aku enggak tahu. Aku enggak nganterin dia sampe toilet," jawab Rin.
"Kita coba saja satu-satu," usul Meiko. Hanya ada tiga toilet di sekolah ini. Luka, Miku, dan Meiko segera membuka satu-satu. Aku bisa melihat, pupil mata Rin membesar.
"KYAAAAA!" pekik Miku histeris.
"Ada apa?!" tanyaku dan Kaito.
"Gu-Gumi..." Miku menunjuk ke toilet itu dengan histeris. Wajahnya pucat sekali. Kami segera melihat ada apa di toilet itu. Itu... Mayat Gumi! Kepala dan tubuhnya terpisah. Rin, Luka, dan Meiko menjerit. Sementara Miku menangis tersedu-sedu.
"Kenapa bisa begini?!" tanya Kaito kaget.
"A-Aku tidak tahu... Begitu aku membuka pintu toiletnya, sudah seperti ini..." jawab Miku lirih.
Aku berpikir keras. Pasti ada yang membunuh Gumi. Pasti. Tidak mungkin ia bunuh diri. Matanya masih terbelalak.
"Kalian beritahu guru soal hal ini. Sementara aku, Rin, dan Meiko akan disini," perintahku. Teman-temanku mengangguk setuju. Kalian tahu alasanku? Aku memilih Rin dan Meiko untuk disini, karena setidaknya mereka cukup pintar, dan suka menyelidiki sesuatu. Dan tidak cengeng. Yah, setidaknya itu alasanku.
Guru-Guru berdatangan. Mereka histeris, beberapa ada yang nyaris pingsan. Kami segera ditanyai macam-macam oleh guru. Kepala Sekolah lalu memanggil polisi untuk meneliti kasus ini, kami dibolehkan pulang.
"Bagaimana kalau kita kumpul di cafe dulu?" ajak Meiko.
Kami semua setuju dengan usul Meiko. Akhirnya, kami langsung ke cafe yang tak jauh dari sekolah, dan sekaligus sebagai tempat favorit kami.

- Len Pov End-
- Normal PoV-

Cafe
"Kematian Gumi sangat aneh, yah begitu," ujar Kaito.
"Ya, siapa yang membunuhnya?" tambah Luka.
"Belum tentu ia dibunuh! Siapa tahu ia bunuh diri!" sela Rin dengan sengit.
"Bisa saja! Memang kau ada bukti apa kalau Gumi bunuh diri?" tukas Len.
"Kalau Gumi dibunuh, siapa pembunuhnya?! Tidak mungkin murid-murid sekolah!" kata Rin sengit.
"Tidak mungkin bunuh diri, Rin," kata Len dengan nada lebih lembut. "Tidak ada benda tajam di TKP tadi. Ya kan, Meiko?"
Meiko mengangguk mengiyakan. "Betul kata Len. Kalau Gumi bunuh diri, tidak ada satupun benda tajam di toilet tempat mayat Gumi."
Rin diam, merasa kesal. Len memandang Rin dengan heran. Saudari kembarnya ini sangat aneh sekarang.
"Kalian ternyata berkumpul di cafe ini."
Len, Rin, Miku, Kaito, Meiko, dan Luka menoleh. Neru, dengan senyumnya yang biasa. "Rin, aku ingin bicara denganmu."
Rin mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke arah Neru. "Lebih baik jangan disini, oke?"
"Baiklah, Rin." Neru tersenyum. Rasanya, Rin muak sekali melihat senyum itu. Rin dan Neru lalu berjalan ke gudang kosong tak terpakai. Rin yang memilihnya, mereka masuk ke dalamnya.
"Ehm, kenapa harus disini, Rin?" tanya Neru sambil terbatuk-batuk karena gudang itu penuh debu.
"Sebelumnya, kenapa kau mengajakku bicara?" Rin balik bertanya.
"Begini, hal apa saja yang kau sukai?" tanya Neru.
Pupil mata Rin membesar. Ia tampak marah. "Hanya itu?! Kau mengajakku bicara hanya untuk menanyakan ini!? Bodoh!"
"Bukan begitu maksudku, tapi..." Neru tidak melanjutkan perkataannya. Karena Rin tiba-tiba mengeluarkan katana dari balik bajunya. Entah bagaimana ia membawanya, karena katana itu sangat berat. "R-Rin, apa y-yang akan k-kaulakukan dengan k-katana itu?" tanya Neru ketakutan.
"Apa? Tentu saja membunuhmu," Rin tersenyum licik. Neru terbelalak. Dengan cepat, Rin menghunuskan katananya dan menebas tangan kiri Neru hingga tangan malang itu terpisah dari tuannya. Neru menjerit kesakitan.
Rin bergerak dengan cepat, memegang kepala Neru dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang katana. "Menjeritlah, Neru," perintah Rin dengan nada mengerikan. Dengan sekali tebas, Rin memotong pergelangan kaki Neru.
"AAAAA!" jerit Neru kesakitan. Di saat itu, Rin langsung memotong lidah sang penjerit. Dengan wajah kejam, Rin memotong Neru berkali-kali sampai Neru tinggal potongan-potongan daging.
"Hahaha! Bagus sekali!" tawa Rin dengan keras, di hadapan mayat Neru yang sangat mengerikan. "Tapi, uh, bajuku ternoda darah. Teman-temanku pasti curiga," gumam Rin.
Rin mulai menggeledah gudang itu, dan menemukan pakaian. Sepertinya, masih baru, entah bagaimana. Tapi Rin tidak peduli. Ia segera memakainya dan meninggalkan seragamnya begitu saja. Ia menyeringai. "Dua orang sudah kubunuh. Tunggulah, cepat atau lambat aku akan membunuh kalian," seringainya, lalu meninggalkan gudang dan mayat Neru.

#Bersambung

Sorry (Chapter 2)

- Rin PoV-

Apakah aku harus membunuh mereka?

Aku berpikir, kemudian menggeleng. Berusaha menyingkirkan pikiran gila itu dari otakku. Tidak mungkin aku membunuh teman-temanku, atau kembaranku. Seburuk apapun mereka. Len, Miku, Luka, Kaito, Meiko, Gumi, dan... Ah, aku tak bisa menyebutkan semuanya. Yang pasti, aku tidak akan membunuh mereka.

"Rin?"

Aku tersadar. "L-Len? Kenapa kau masih disini?"

Len mendekatiku. "Kau terus terdiam disini. Aku khawatir. Ayo, kita ke kelas," ucap Len sambil menggandeng tanganku menuju kelas.

Sampai di kelas...

"Rin! Kau kemana saja?!" sapa Miku. Heh, Miku? Bukankah dia kelas 2 SMA? Dan aku masih kelas 3 SMP. Kenapa dia di kelasku?

"Miku?" tanyaku heran.

Gadis berambut hijau toska itu mengangguk sambil menunjukkan senyum terbaiknya. "Yup, ini aku, Hatsune Miku."

"Kenapa kau disini?" tanyaku lagi.
"Aku hanya iseng saja kesini bersama Gumi, Luka, Kaito, dan Meiko," jelas Miku. "Lagipula, aku rindu padamu, Rin!"
Aku tertawa melihat tingkah Miku. Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin di balikku dia menjelek-jelekanku. Aku duduk di bangkuku dengan lega.
"Miku, boleh bicara sebentar?" Akita Neru tiba-tiba muncul dari balik pintu kelasku.
Miku mengangguk. Kemudian, ia berjalan menuju Neru dan keluar kelas. Sepertinya, ada hal penting yang mereka ingin bicarakan. Apa, ya?
"Aku ingin keluar kelas, ahh~" kataku.
"Eh! Buat apa?!" cegat Len.
Aku mengernyit. "Memangnya kenapa?"
"K-Kau keluar untuk apa? Menguping, ya?" tuduh Len.
"Eh! Enak saja! Aku mau ke toilet!" sanggahku.
"Toilet? Baru saja kau ke toilet. Ada apa, sih?" Len seperti berusaha mencegahku keluar. Aku mengernyit. Aneh sekali rasanya. Kenapa Len?
Belum sempat Len menjawab pertanyaanku, Miku sudah kembali ke dalam kelas dengan wajah berbinar. Hei, apa yang dia bicarakan dengan Neru, ya?
"Cepat sekali Miku, bicaranya," pancingku.
Miku tertawa. "Tentu saja. Cuma pembicaraan singkat, kok. Tentang..." Miku terdiam sesaat. Lalu, ia melanjutkan dengan agak gugup. "T-Tentang ujian."
Hm, itu agak aneh. Apa maksudnya dia mau bilang tentangku?

- Normal PoV-

Rin mendengus pelan, lumayan kesal. "Aku mau ke toilet, cuci muka," kata Rin dengan nada ketus.
"Aku ikut!" kata Gumi tiba-tiba. Rin mengangguk lesu. Mereka pun berjalan menuju toilet sekolah.
"Tunggu aku, ya, Rin~" pinta Gumi sambil masuk ke salah satu bilik toilet.
Rin hanya mengangguk, lalu mulai membasuh mukanya. Rin menghela napas. Sosok orang tadi tiba-tiba muncul kembali.
"Kau lagi," sapa Rin dengan dingin.
Dia mengangguk. "Apa kau tahu, apa yang dibicarakan kedua temanmu tadi?"
Rin memicingkan matanya, lalu menggeleng. "Tidak."
"Kau akan mengetahuinya," ucapnya sambil mencengkram pergelangan tangan Rin. Mereka seolah-olah berputar. Saat Rin membuka matanya, ia bisa melihat Miku dan Neru yang bercakap. Waktunya kembali. batin Rin.
"Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Neru.
Miku menggeleng sambil tertawa. "Tidak akan, Neru. Rin itu gadis yang bodoh. Dia tidak akan menyadarinya."
Neru tertawa. "Kau benar juga, Miku."
Miku ikut tertawa. Rin panas melihatnya. Lalu, semua kembali berputar dan dia kembali ke toilet. Orang itu sudah menghilang. Tapi, di tangan Rin, ia memegang sebuah... Katana. Rin menyeringai.
"Rin? Kau masih disitu?" tanya Gumi dari dalam.
"Ya!" jawab Rin. "Cepatlah sedikit!" Agar aku bisa membunuhmu, lanjut Rin dalam hati.
Gumi keluar dari kamar mandi sambil tersenyum. Namun, senyuman itu segera hilang melihat Rin yang mendorongnya dalam kamar mandi, lalu menguncinya.
"R-Rin?" tanya Gumi kaget.
Rin menyeringai. "Ya, Gumi?" jawabnya sambil menghunus katana-nya.
Gumi terbelalak. "Apa yang akan kau lakukan, d-dengan katana i-itu?"
Rin kembali menyeringai seram. Ia mengangkat katana itu, lalu mendekatkannya ke leher Gumi. Gumi pucat, gemetaran. "R-Rin! Ja-jangan..."
"Setelah kalian menjelekanku di belakangku?" kata Rin sinis. Gumi membelalak.
"A-Apa?!"
"Sudahlah, Gumi. Mengaku sajalah. Toh, aku akan segera membunuhmu," ucap Rin. Tanpa menunggu perkataan Gumi selanjutnya, ia langsung menebas leher Gumi hingga tandas. Rin tertawa seperti iblis.
"Hahaha! Baguslah, satu orang mati. Selanjutnya semuanya..." Ia tersenyum licik. Lalu, menutup pintu kamar mandi, meninggalkan mayat Gumi yang kepalanya terpisah dengan tubuh malang itu.
Bersambung~

Welcome to Nightmare Camp! (3)


Aku terkejut. Lalu menoleh ke samping. Tidak ada siapapun. Semua teman-temanku sekarang sedang berada di depanku. Siapa suara tadi?
"Hei, Cathryn!" Alice mengguncangkan pundakku lagi.
"Aduh.. Apa sih?" tanyaku.
"Kau bengong terus! Jelaskan! Tadi ada apa, sih? Siapa perempuan maksudmu? Kejadiannya bagaimana?" tanya Alice bertubi-tubi.
"Iya! Aku penasaran!" tambah Jessica.
Aku terdiam cukup lama. Aku ingin bicara, namun mulutku seakan terkunci. Miss Elisa tiba-tiba muncul.
"Berbarislah sekarang. Kita akan segera berangkat," kata Miss Elisa.
"Siap, Miss!" Jessica memberi hormat.
"Nanti saja deh, kau ceritakan. Ya?" kata Alice.
Aku mengangguk. Jessica segera memimpin regu kami untuk berbaris. Bersama regu lain, kami berjalan menuju Strought Forest. Jangan salah, ya! Strough Forest jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Walaupun lumayan jauh.

***

Strought Forest

Strought Forest sudah terlihat di depan mata kami. Strought Forest dipenuhi berbagai macam tumbuhan aneh, dan pohon-pohon besar. Kata orang-orang, jika masuk ke dalam Strough Forest terlalu dalam, maka tak akan bisa keluar lagi.
Banyak yang mencoba membuktikan mitos ini. Benar. Dari entah sekian ratus orang yang mencoba masuk begitu dalam ke Strought Forest, tak ada yang kembali. Seolah-olah hilang ditelan bumi.
"Ahh! Udara yang segar!" seru Jessica gembira. Ia memang senang sekali dengan udara segar.
Rombongan pramuka berhenti di tempat biasa kami berkemah. Ada sungai di situ.
"Sekarang, duduk!" perintah Caldren Cone, kakak pembina yang lain.
Kami langsung duduk melepas rasa lelah setelah sekian jauhnya berjalan. Rumput yang basah terasa tak asing lagi di tanganku.
"Cathryn," bisik Alice yang duduk di depanku sesuai barisan. "Bisa kau ceritakan sekarang soal tadi?"
Aku baru saja akan menjawab, saat Caldren menghardik kami. "Jangan mengobrol!" hardik Caldren.
"Nanti saja," bisikku.
Caldren Cone adalah kakak pembina paling galak yang pernah kukenal. Sekaligus menyebalkan. Caldren segera memerintahkan regu-regu untuk mendirikan tenda. Tanpa bicara, kami langsung mendirikan tenda. Setelah mendirikan tenda, Caldren menyuruh kami berkumpul.
"Sekarang, kita akan berkeliling Strough Forest," kata Caldren.
"Yahh, nggak seru," celetukku tanpa sadar.
Caldren menatapku kaget. Kemudian tersenyum misterius. "Memang tidak seru. Nanti malam, kalian akan melakukan yang lebih seru lagi."
Aku mengernyit heran. Begitu pula anggota regu lainnya. Tapi, karena perkataan Caldren itu, kami jadi menikmati berkeliling di Strought Forest.
Malam tiba. Caldren, Elisa, dan beberapa kakak pembina lain mengumpulkan kami.
"Sekarang, kalian akan melakukan sesuatu yang sangat seru," kata Caldren sambil tersenyum misterius.
Seluruh anggota pramuka tampak sangat menanti perkataan Caldren selanjutnya.
"Sekarang, berbaris dan masuk ke hutan. Kita adakan penjelajahan hutan lagi," lanjut Caldren.
Semua langsung mendesah kecewa. Begitu pula aku dan Alice.
Mau tak mau, kami langsung berjalan untuk menjelajah hutan kembali. Caldren dan Elisa yang memimpin. Tiba-tiba saja, mereka berhenti, lalu berbalik.
"Sekarang, saat yang seru itu benar-benar dimulai," kata Caldren pelan. Ia menyeringai menyeramkan. "Kita akan mencoba membuktikan mitos legendaris itu."

#Bersambung

Rabu, 27 Maret 2013

Welcome to Nightmare Camp! (2)


Aku dan Alice tercengang. Di mana gadis berkursi roda yang tadi? Jessica tertawa. "Kalian pasti salah lihat," ucapnya.
"Enggak! Aku beneran lihat, kok!" Alice bersikeras.
"Aku juga! Gadis itu berambut pirang, bermata hijau, duduk di kursi ro-" Ucapanku terputus karena Alice mengguncangkan pundakku untuk diam.
Jessica geleng-geleng kepala. "Kalian pasti berhalusinasi."
Aku terdiam. Aku jelas tidak merasa berhalunisasi. Gadis itu terlihat begitu nyata. Sekalipun ya aku berhalusinasi, kenapa Alice juga melihatnya?
"Alice, tadi itu halusinasi atau betulan, ya?" tanyaku pada Alice.
"Sudah, ah. Lupakan saja," kata Alice. "Kita harus memikirkan soal berkemah minggu depan."
Aku mengangguk walaupun masih bingung. Bingung, sangat bingung. Ah, tapi, aku tidak boleh memikirkannya lama-lama. Sekarang, aku harus memikirkan soal perkemahan minggu depan..

***

Tak terasa 1 minggu berlalu begitu cepatnya. Dan sekarang, tibalah hari yang di tunggu itu. Berkemah! Yeay! Aku sudah mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Topi pramuka, dasi, tali, tongkat, pisau kecil, serta berbagai atribut yang sudah terpasang lengkap di seragam cokelatku.
Acaranya di adakan mulai jam 5 sore, berkumpul di sekolah. Sekarang, masing jam 4 sore lewat empat puluh menit. Meski begitu, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat. Alice sudah menyamperku. Dan sekarang, dia ada di ruang tamu.
"Cathryn! Alice sudah menunggu lama, cepat sedikit!" seru Hanna, kakakku.
"Iya!! Sebentar!!" balasku sambil menguncir rambutku. Aku segera menyambar tongkat dan tasku, lalu berlari ke ruang tamu.
Alice sedang duduk tak tenang di sofa bersama Hanna.
"Alice!" panggilku.
"Lama sekali!" komentar Alice.
"Maaf," Aku nyengir.
"Ya, nggak apa-apa. Yuk, berangkat," ajak Alice.
Aku mengangguk.
"Hanna, aku berangkat dulu, ya!" pamitku pada Hanna.
"Ya!" sahut Hanna pendek.
Aku dan Alice segera berlari ke sekolah.

***

"Hei! Itu dia mereka!" seru Jessica begitu aku dan Alice menjejakkan kaki kami di lapangan sekolah.
Aku dan Alice segera berlari ke barisan regu kami.
"Jadi, semuanya sudah kumpul, ya!" kata Jessica.
Anggota reguku adalah aku, Alice, Jessica, Elysia, Zara, dan Connie. Ketuanya adalah Jessica, wakilnya Zara, sekretarisnya Alice, dan bendaharanya aku. Sebetulnya, aku ingin sekali menjadi ketua regu. Tapi, apa daya, aku cuma terpilih jadi bendahara.
"Sekarang jam berapa?" tanya Alice.
Elysia melirik jam tangan digitalnya. "Jam empat lewat lima puluh delapan menit. Itu artinya, sebentar lagi!" pekik Elysia.
"Yeah!" seruku gembira.
Rasanya senyumku lebar sekali sekarang. Aku memperhatikan anggota reguku. Alice,  Jessica, Elysia, sedang mengobrol. Zara, sedang menulis sesuatu. Connie, sedang menyanyi pelan.
Dan... Gadis itu lagi!
Mataku menangkap sesuatu yang ganjil. Ada gadis itu. Gadis yang kemarin. Gadis yang kemarin duduk di kursi roda. Namun, sekarang, gadis itu tidak duduk di kursi roda.
Ia sedang...
Duduk di samping Alice!
Matanya yang hijau sendu menatap Alice. Di bibirnya, tersungging senyuman sendu. Alice sepertinya sama sekali tidak menyadarinya.
Atau
Alice tidak melihat gadis itu?
"A-Alice!" panggilku tercekat.
Alice sepertinya tidak mendengar. Ia tetap tertawa bersama Elysia. Tak sadar gadis itu ada di sampingnya. Perlahan, gadis itu menoleh ke arahku. Matanya yang hijau menatapku sendu. Dengan tatapan yang begitu sedih. Tubuhku seakan beku, tak bisa bergerak. Hanya bisa mematung dan menatap wajah gadis itu.
"To-Tolong!" seruku sambil berusaha meronta.
Namun, tak ada. TAK ADA YANG MENDENGAR. Seolah-olah aku tak ada di antara mereka.
"Jangan..." desah gadis itu lirih.
"A-Apa?" tanyaku takut.
"Jangan... Cepat... Sebelum terlambat... Cepat... Pergi... Pergi..."
Ucapan gadis itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Aku menutup telingaku. Berusaha tidak mendengar suara gadis itu. Namun percuma saja. Suaranya terus terdengar.
"Tidak! Pergi!" jeritku.
Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur. Meski begitu, suara gadis itu tetap terdengar. Di antara samar-samar suara gadis itu, terdengar suara teman-temanku memanggil namaku.
"Cathryn! Cathryn!"
Plak! Plak! Dua tamparan keras mendarat di pipiku. Aku tersadar. Semua menjadi terang kembali. Dan sekarang, Alice serta teman-temanku dan Miss Elisa ada di depanku.
"Cathryn! Akhirnya kau sadar juga!" pekik Alice gembira.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Kau tadi pingsan. Sebelum pingsan, kau menjerit keras," jelas Alice.
"Apa yang membuatmu pingsan, Cath?" tanya Miss Elisa.
"Aku... Rasanya, ada seorang gadis di samping Alice. Dia... Dia mengatakan jangan, cepat, sebelum terlambat, dan pergi. Gadis itu... Gadis itu yang kita lihat kemarin, Al!" jawabku sambil mengguncang pundak Alice.
Alice terbelalak. "Hei, Cathryn! Coba tenang dulu!" Miss Elisa menenangkanku.
Aku berusaha tenang. Miss Elisa menyodorkanku segelas air mineral. Aku meminumnya sampai tandas.
"Coba ceritakan ulang dengan tenang," perintah Miss Elisa.
"Iya, seperti yang ku bilang tadi. Aku melihat seorang gadis di samping Alice. Gadis itu berambut pirang dan bermata hijau. Aku melihatnya kemarin, dia berkursi roda. Lalu, tadi, saat dia menatapku, rasanya aku nyaris tidak bisa bergerak. Dan, dia bilang begitu," ceritaku.
Miss Elisa tampak sangat kaget. Namun, ia berusaha menyembunyikan kekagetannya itu. "Kau yakin itu bukan halusinasi?"
Aku menggeleng. "Tidak. Semua... Terasa begitu nyata."
"Gadis? Di sampingku?" sela Alice heran. "Yang ada hanya Jessica dan Elysia."
"Aku tahu. Maksudku, gadis yang kita lihat kemarin, Al," ujarku.
"Tidak ada!" Alice bersikeras.
"Sudahlah!" lerai Miss Elisa. "Kita akan segera berangkat ke Strought Forest. Cathryn, kau ikut atau tidak?"
"Ikut!" seruku.
"Ya sudah. Asal kau tidak kelelahan," Miss Elisa berlalu ke regu tim lain untuk memberi komando.
Aku menghela napas.
"Kau bodoh,"
Aku terkejut. Lalu menoleh ke samping. Tidak ada siapapun. Semua teman-temanku sekarang sedang berada di depanku. Siapa suara tadi?

#Bersambung

Welcome to Nightmare Camp! (1)


"Anak-anak, pada hari Jum'at minggu depan, akan di adakan acara berkemah sampai hari Minggu di Strought Forest. Di harapkan semua murid bisa ikut. Pengumuman lain nanti akan di sampaikan lebih jelas." kata Miss Elisa, kakak pembina pramuka, pada dua tahun yang lalu.
Anak-anak pramuka bersorak gembira. Begitu pula dengan aku. Cathryn Ceremony. Aku sangat suka berkemah! Sudah berkali-kali aku ikut berkemah. Namun, perkemahan kali ini betul-betul luar biasa. Perkemahan ini bukan hanya seru. Tapi, menyeramkan, menegangkan, dan mengubah hidupku.
Membuat hidupku menjadi sangat menderita... Apakah kalian mau mendengar ceritaku?
Baiklah, kita mulai ceritanya dari sekarang...

***

Hari ini adalah hari Jum'at. Di sekolahku, Topaz Elementary School, setiap hari Jum'at selalu ada ekskul pramuka.
Menyenangkan!
Aku suka sekali pramuka. Dari kelas satu, sampai sekarang, kelas 6. Menurutku, setiap kegiatan pramuka itu selalu asyik. Termasuk...
Berkemah!
Ya, hal ini sangat ku nantikan dalam pramuka. Di sekolahku sih, biasanya berkemah dalam pramuka di adakan setiap 6 bulan sekali.
Dan sekarang, aku sedang menanti-nanti kapan saatnya berkemah lagi. Soalnya kan, sudah hampir 6 bulan sejak perkemahan terakhir.
Semoga saja, sebentar lagi! Ya, semoga saja. Sekarang, masih pelajaran kedua di hari Jum'at. Alias pelajaran Sains. Setelah pelajaran sains, istirahat, lalu pramuka!
"Jadi, untuk pe-er, halaman 91-93 bagian 1 sampai bagian 3," Mrs.White - guru sains - menutup pelajaran.
Mrs.White lalu mengemasi barangnya dan keluar kelas, bersamaan dengan bel istirahat yang berbunyi. Murid-murid bersorak gembira, lalu pergi ke luar kelas.
Alice, sahabatku, menggandeng tanganku. "Kita ke kantin yuk, Cath." ajaknya.
"Ayo! Bekalku juga sudah habis," aku menerima ajakannya pergi ke kantin.
Kami lalu berjalan ke kantin, dan membeli makanan.
"Kau beli apa?" tanya Alice.
"Hm... Aku bingung mau beli apa..." jawabku bingung.
"Mie instan  aja, sama kayak aku," usul Alice.
"Ya deh, mie instan kuah," pesanku kepada penjaga kantin sambil memberikan sejumlah uang yang pas sesuai harga pesananku.
Tak lama kemudian, makan pesanan kami sudah matang. Alias, mie instan. Praktis. Alice langsung memakannya dengan lahap. Saking lahapnya, sampai menimbulkan bunyi berdecak saat ia makan.
"Jangan makan sambil berdecak, ah," tegurku.
"Maaf. Soalnya, mie instannya enak, sih," ujar Alice sambil tetap memakan mie instannya.
Aku geleng-geleng kepala melihat tingkat Alice. Dengan cepat, aku menghabiskan mie instanku. Itu karena, sebentar lagi jam istirahat akan habis. Aku segera mengembalikan mangkuknya bersama dengan Alice, lalu berlari ke kelas untuk mengambil topi serta tongkat.

***

"Anak-anak, pada hari Jum'at minggu depan, akan di adakan acara berkemah sampai hari Minggu di Strought Forest. Di harapkan semua murid bisa ikut. Pengumuman lain nanti akan di sampaikan lebih jelas." kata Miss Elisa, kakak pembina pramuka.
Aku dan Alice bersorak gembira.
"Yey!! Berkemah!" sorak kami berdua riang.
"Yah, berkemah," keluh Callista, ia memang tidak suka berkemah.
"Memangnya kenapa? Berkemah kan, seru." tanyaku heran pada Callista.
"Itu sih, menurutmu. Pokoknya, aku nggak suka berkemah." jawab Callista.
Aku cuma mengangguk saja. Itu kan, hak dia juga, sih. Mau suka berkemah atau enggak. Ah, kenapa aku jadi ngomongin Callista, ya? Yang pasti, sekarang aku sangat senang karena akan berkemah!
"Cath, Cath, lihat, deh. Itu siapa, ya?" tanya Alice sambil menunjuk seseorang.
Aku memicingkan mataku untuk melihat siapa yang di tunjuk Alice. Seorang gadis dewasa berambut pirang acak-acakan, ia duduk di kursi roda. Matanya yang hijau tampak sendu.
"Iya ya. Itu siapa?" Aku ikut bingung.
"Ngomongin siapa, sih?" Tiba-tiba, Jessica ikut-ikutan.
"Itu, lho. Cewek berkursi roda yang ada di situ," jawabku sambil menunjuk gadis itu.
Jessica mengernyit. "Cewek? Berkursi roda? Mana? Enggak ada cewek berkursi roda."
"Hah?" Aku langsung beralih lagi ke tempat gadis berkursi roda itu.
Tidak ada orang di sana. Aku tercengang. Alice juga tercengang sepertiku. Siapa gadis itu? Mengapa ia hilang begitu saja?

#Bersambung